Tumbilotohe menjadi tradisi kolosal paling bercahaya yang pernah lahir dari rahim kebudayaan Gorontalo di ujung bulan Ramadan. Bagi masyarakat serambi Madinah ini, menyambut malam Lailatulqadar bukan sekadar berdiam diri di dalam ruang masjid yang sunyi.
Tradisi kuno sejak abad ke-15 ini mewujud dalam bentuk penyalaan jutaan lampu minyak tradisional secara serentak di seluruh penjuru kota.
Tumbilotohe bukan hiasan gemerlap biasa, melainkan simbol kemenangan spiritual, lambang persatuan warga, dan harga diri daerah yang sangat sakral.
Akar sejarah perayaan ini bermula ketika para leluhur Gorontalo menggunakan alat penerang alami untuk memudahkan warga membayar zakat fitrah pada malam hari. Pada masa awal, mereka memakai wango atau damar dari getah pohon hutan yang mereka bungkus menggunakan daun kelapa kering.
Seiring berjalannya waktu, teknologi lokal berkembang dengan memanfaatkan sumbu dari minyak kelapa murni, hingga akhirnya beralih memakai minyak tanah. Penerangan ini melambangkan filosofi pembersihan jiwa manusia dari kegelapan dosa menuju terangnya cahaya iman yang suci.
Mekanisme persiapan festival lampu ini selalu menuntut komitmen fisik dan finansial yang sangat luar biasa dari setiap pemuda kampung. Remaja masjid bergotong-royong mendirikan kerangka bambu raksasa berbentuk replika kitab suci, masjid, atau lambang adat di tanah lapang.
Mereka menata ribuan botol kaca bekas yang berfungsi sebagai wadah lampu minyak setinggi belasan meter dengan tingkat presisi yang tinggi. Warga rela menghabiskan waktu berhari-hari di bawah terik matahari demi memastikan konfigurasi lampu kampung mereka menjadi yang termegah.
Krisis energi modern kini datang menghantam dan mengubah wajah tradisi andalan warga Gorontalo ini secara drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Kelangkaan minyak tanah yang parah serta lonjakan harga yang sangat tinggi mencekik kemampuan ekonomi panitia penyelenggara di tingkat desa.
Pasokan bahan bakar bersubsidi yang menghilang dari pasar memaksa warga memutar otak agar tradisi warisan leluhur ini tidak padam sepenuhnya. Situasi sulit ini memicu lahirnya gelombang inovasi baru yang mengubah pakem alat penerang tradisional secara radikal.
Sebagian besar warga kota kini memilih beralih menggunakan lampu hias listrik (LED) berdaya rendah sebagai solusi pengganti yang paling instan. Penyelenggara memasang instalasi kabel ribuan meter untuk menyalakan lampu warna-warni yang bisa berkedip secara otomatis mengikuti irama musik zikir.
Modernisasi ini memang membuat area festival terlihat lebih meriah, modern, dan menghemat biaya operasional hingga jutaan rupiah. Namun, perubahan ini memicu perdebatan sengit di kalangan budayawan lokal yang menilai lampu listrik telah merusak kesakralan tradisi.
Kelompok masyarakat yang tetap teguh menjaga keaslian tradisi memilih jalan alternatif yang jauh lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Mereka memanfaatkan minyak goreng bekas (jelantah) yang mereka campur dengan sedikit minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar sumbu.
Formula kreatif ini terbukti mampu menghasilkan nyala api yang stabil, minim asap hitam, dan memiliki aroma pembakaran yang tidak menyengat hidung. Perjuangan mempertahankan nyala api asli ini menjadi bukti keteguhan iman warga Gorontalo dalam merawat identitas kultural mereka.
Di tengah gempuran modernisasi dan krisis bahan bakar, ritual tahunan ini tetap tegak berdiri sebagai ikon pariwisata budaya yang sangat bernas. Perubahan teknologi lampu membuktikan secara nyata bahwa kearifan lokal Gorontalo memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi terhadap perkembangan zaman.
Tumbilotohe berhasil mempertahankan fungsinya sebagai perekat tali silaturahmi antarwarga tanpa harus kehilangan daya pikat magisnya yang memukau dunia. Melalui kilauan jutaan cahaya di malam hari, bumi Gorontalo terus memancarkan energi spiritualitas yang berani, dinamis, dan mandiri.
Tradisi Walima Gorontalo, Totalitas Warga Rayakan Maulid
