An Se-young kini resmi menahbiskan dirinya sebagai pemain terbaik sepanjang masa (Greatest of All Time) bulutangkis di sektor tunggal putri.
Dunia bulu tangkis memang sedang menyaksikan sebuah fenomena langka, barangkali hanya terjadi sekali dalam sepuluh dasawarsa.
Kedigdayaan An Se-young semakin sahih setelah ia resmi meruntuhkan rekor keramat milik legenda hidup Indonesia, Susi Susanti. Kepastian sejarah ini lahir di Odense pada hari Minggu, 18 Oktober 2026. Sang Ratu Korea sukses menjuarai turnamen Denmark Open 2026.
Kemenangan comeback dramatis atas Akane Yamaguchi di laga final membuat An Se-young mengamankan gelar individu internasional ke-47 sepanjang karier profesionalnya.
Catatan fantastis tersebut resmi melewati rekor 46 gelar juara tunggal putri milik Susi Susanti, legenda dari Indonesia. Rekor itu telah bertahan kokoh selama hampir tiga dekade sejak tahun 1997. Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) menghitung sistem pendataan resmi ini sejak 1989. Pendataan tersebut mengecualikan turnamen multievent regional.
Kini An Se-young berdiri sendirian di puncak sejarah sebagai kolektor trofi sirkuit internasional terbanyak.
Ia baru menginjak usia 24 tahun dan sedang berada dalam masa keemasan. Potensi penambahan gelarnya masih sangat terbuka lebar. Pengamat olahraga memprediksi sang monster lapangan ini sangat mungkin menambah puluhan trofi lagi. Ia bisa menembus angka ekstrem 60 atau bahkan 70 gelar juara sebelum masa pensiunnya tiba kelak. Kontribusi besarnya membuat nama An Se-young menjadi penguasa mutlak yang mendominasi panggung dunia secara total.
Lahir di Gwangju pada 5 Februari 2002, atlet bertinggi badan 170 cm ini telah mengumpulkan deretan prestasi paripurna. Ia sanggup mengalahkan semua legenda dari era mana pun. Pada usia emas ini, ia sudah melengkapi lemari pialanya dengan medali emas Olimpiade Paris 2024.
Ia juga mengoleksi dua gelar Kejuaraan Dunia BWF (2023 dan 2026), emas Asian Games, serta trofi beregu Uber Cup. Pencapaian mahkota tertinggi yang komplet di usia muda menjadi bukti sahih statusnya sebagai penguasa takhta tunggal putri sejati.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kehebatan An Se-young tidak bersandar pada momentum sesaat. Ia memiliki konsistensi yang luar biasa gila. Sepanjang musim kompetisi 2026, ia mencatatkan statistik fantastis yang meluar dari nalar persaingan tunggal putri modern. Ia mengukir total kemenangan dengan rasio kesuksesan atau win rate mencapai 98,4 persen.
Dari puluhan pertandingan di level super series tertinggi dunia, ia hanya menelan satu kekalahan tunggal. Selebihnya, ia menyapu bersih laga dengan rentetan kemenangan beruntun. Rekor impresif ini terus berlanjut hingga melewati puluhan pertandingan tanpa kekalahan. Keberhasilan mengamankan puluhan gelar juara internasional level senior menempatkannya sendirian di puncak piramida sejarah. Catatan ini mengecualikan turnamen junior dan multievent regional. Keberadaannya di peringkat satu dunia selama ratusan minggu berturut-turut menjadi penegas betapa kokohnya cengkeraman sang Ratu.
Sains olahraga dan pengamat bulu tangkis dunia sepakat mengenai fondasi utama kedigdayaan An Se-young. Ia memiliki kemampuan fisik yang menyerupai monster. Pertahanannya menjadi yang paling rapat dan kokoh dalam sejarah bulu tangkis.
Ia menghadirkan tembok pertahanan berjalan yang hampir mustahil runtuh oleh smash sekeras apa pun.
Pergerakan kakinya di lapangan sangat efisien berkat pegas otot alami. Hal ini membuatnya mampu menjangkau sudut-sudut lapangan yang sulit tanpa menguras banyak energi.
Hebatnya, evolusi permainan An Se-young tidak berhenti pada taktik bertahan semata. Ia enggan sekadar memancing kesalahan lawan. Belakangan ini, ia menyempurnakan strategi agresif baru bernama flying style. Gaya baru ini mengombinasikan ketahanan stamina asli dengan perubahan tempo permainan yang mendadak.
Ia juga sering melepaskan eksekusi half-smash tajam ke area kosong lawan. Transformasi taktis ini melahirkan pemain yang sempurna. Ia bisa bermain reli melelahkan hingga seratus pukulan, namun juga bisa mematikan poin lawan dengan cepat lewat serangan kilat.
Ketangguhan mental juga menjadi pemisah besar antara An Se-young dan para rival elite di sekelilingnya. Dunia sempat terperangah ketika ia berani menyuarakan kritik tajam secara terbuka kepada Asosiasi Bulu Tangkis Korea (BKA). Kritik tersebut meluncur sesaat setelah dirinya mengamankan medali emas Olimpiade Paris 2024. Banyak pihak memprediksi konflik internal yang menguras energi psikologis itu akan meruntuhkan fokus dan performanya.
Namun, ia justru merespons tekanan luar lapangan tersebut dengan cara yang sangat elegan dan berkelas. Ia menutup telinga dari segala drama dan langsung masuk ke lapangan. Ia membungkam keraguan lewat raketnya dengan terus memenangkan turnamen demi turnamen besar. Kemampuan mengisolasi diri dari tekanan eksternal raksasa tergolong luar biasa. Ia tetap tampil dominan sekaligus membuktikan kedewasaan mental seorang juara dunia sejati.
Dalam lingkaran elite tunggal putri saat ini, nama-nama besar seperti Akane Yamaguchi, Chen Yufei, dan Carolina Marin merupakan pemain luar biasa.
Mereka memiliki kualitas dunia yang sangat disegani. Akane Yamaguchi memiliki kelincahan luar biasa yang sanggup meladeni reli panjang. Chen Yufei mengandalkan akurasi penempatan bola yang sangat taktis. Sementara itu, Carolina Marin mempunyai karakter bermain yang sangat ofensif dan meledak-ledak.
Namun, para pemain hebat ini sering kali kehabisan ide dan frustrasi di hadapan An Se-young. Konsistensi An Se-young yang begitu tinggi membuat standar pertandingan tunggal putri bergeser jauh. Untuk mengalahkannya, seorang lawan harus bermain sempurna tanpa cela selama lebih dari satu jam. Keunggulan mutlak dalam rekam jejak pertemuan (head-to-head) melawan para pesaing terdekatnya semakin mengukuhkan statusnya sebagai predator tertinggi di lapangan.
Melihat usianya yang baru menyentuh 24 tahun, masa depan An Se-young masih sangat panjang dan mengerikan bagi lawan-lawannya. Secara matematis, ia masih memiliki waktu setidaknya dua siklus Olimpiade lagi dalam kondisi fisik prima. Syaratnya, ia harus mampu mengelola kebugaran tubuhnya dengan baik. Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) juga terus mengkaji efisiensi durasi pertandingan. Rencana ini pasti akan membuat masa pakai karier seorang atlet cerdas seperti dirinya berjalan jauh lebih panjang.
An Se-young kini sedang membidik dua rekor abadi sekaligus untuk menyempurnakan statusnya sebagai legenda tertinggi.
Target raksasa pertama adalah meruntuhkan benteng pertahanan milik Susi Susanti berupa 59 kemenangan beruntun tanpa terkalahkan di panggung internasional. Rekor keramat era 1990-an ini bertahan kokoh selama lebih dari tiga dekade.
Catatan kemenangan beruntun An Se-young sempat terhenti di angka 36 laga setelah ia kalah dari Wang Zhiyi pada final All England Open Maret 2026 lalu. Namun, kekalahan itu justru menjadi titik balik kebangkitannya.
Sejak momen All England tersebut, sang monster Korea mengamuk dan belum pernah menelan kekalahan lagi di lapangan.
Pasca-kemenangan mutlak di turnamen Denmark Open 2026 pekan lalu, An Se-young kini mengantongi rekor 45 kemenangan beruntun.
Berarti ia hanya membutuhkan 15 kemenangan beruntun lagi untuk menghapus nama Susi Susanti dari rekor winning streak terpanjang sepanjang sejarah.
Bukan cuma rekor kemenangan di lapangan, target raksasa kedua yang diincar An Se-young adalah meruntuhkan rekor dominasi peringkat satu dunia terlama milik legenda China, Li Xuerui. Data mencatat Li Xuerui sebagai pemegang rekor durasi peringkat 1 dunia berturut-turut terlama sejak debut puncak, yaitu selama 124 minggu beruntun.
An Se-young secara total akumulasi sebenarnya sudah menang mutlak karena telah mengumpulkan 167 minggu di takhta tertinggi. Namun, perjalanan panjangnya di puncak dunia sempat terganggu. Cengkeraman total An Se-young di puncak ranking dunia sempat terputus akibat badai cedera lutut parah pasca-Asian Games Hangzhou.
Cedera yang membuatnya menepi sejak akhir tahun 2023 hingga pertengahan 2024. Ia harus absen di beberapa turnamen besar dan merelakan takhta nomor 1 dunia periode pertamanya terhenti di angka 62. Posisi puncaknya direbut oleh rival utamanya, Chen Yufei.
Usai pulih dan merebut kembali posisi puncak pasca-Olimpiade, ia memulai dominasinya dari nol dan melesat tanpa rem pada periode kedua ini hingga menyentuh angka 105 minggu berturut-turut.
Kini, ia hanya membutuhkan 19 minggu berturut-turut lagi untuk resmi menggusur dominasi historis Tiongkok tersebut dan menancapkan namanya sendirian sebagai penguasa ranking terlama tanpa putus dalam sejarah modern bulu tangkis dunia.
Atribut fisik, kecerdasan taktik, dan rasa lapar akan kemenangan yang belum padam mendukung penuh ambisi tersebut. Publik dunia saat ini tidak sekadar melihat seorang juara, melainkan sedang menjadi saksi hidup perjalanan atlet tunggal putri terbaik dalam sejarah bumi.
Roman Shogdzhiev, Bocah Rusia Calon Grandmaster Termuda
