Coka Iba merupakan tradisi religi yang sangat unik di pesisir timur Pulau Halmahera. Masyarakat adat menggelar ritus tahunan ini untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi tersebut hidup di kawasan budaya Gamrange yang mencakup Maba, Patani, dan Weda.
Hingga kini, Coka Iba tetap menjadi salah satu perayaan Maulid paling khas di Maluku Utara. Coka Iba bagian dari warisan budaya masyarakat Gamrange yang memadukan adat lokal dan nilai-nilai Islam.
Perayaan ini menampilkan puluhan pria yang mengenakan kostum dan topeng berwajah menyeramkan. Sekilas, sosok-sosok tersebut tampak seperti monster atau makhluk gaib yang keluar dari hutan.
Namun masyarakat setempat tidak memaknai topeng itu sebagai simbol ilmu hitam atau pemujaan setan.
Dalam tradisi Gamrange, topeng-topeng tersebut mengandung pesan moral tentang pentingnya menundukkan hawa nafsu, kesombongan, dan sifat-sifat buruk manusia.
Beberapa penafsiran lokal juga memandangnya sebagai simbol seluruh makhluk ciptaan Tuhan yang turut menyambut kelahiran Rasulullah SAW.
Masyarakat Gamrange mengembangkan tradisi ini melalui proses panjang perjumpaan budaya lokal dan Islam. Para peneliti memandang Coka Iba sebagai bentuk akulturasi, masyarakat pesisir Halmahera menerima ajaran Islam tanpa melepaskan identitas budayanya.
Tradisi lisan memang mengaitkan Coka Iba dengan fase awal penyebaran Islam di wilayah tersebut, tetapi sumber tertulis belum mampu memastikan waktu pasti kemunculannya.
Pelaksanaan Coka Iba selalu bertepatan dengan 12 Rabiul Awal. Tabuhan tifa menggema sejak pagi dan mengiringi kemunculan para aktor bertopeng di tengah kampung.
Mereka mengenakan kostum dari daun pandan berduri yang oleh masyarakat setempat disebut buroburo. Jumbai daun yang membungkus tubuh para pemain menghasilkan suara gemerisik khas dan memperkuat kesan misterius sepanjang prosesi.
Meski berpenampilan menyeramkan, para pemain justru menghidupkan suasana gembira. Mereka berlari di antara kerumunan, menggoda penonton, dan sesekali mengejar warga dengan cara yang jenaka. Atraksi tersebut mencairkan suasana sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat yang berkumpul merayakan Maulid Nabi.
Di balik kemeriahannya, Coka Iba menyimpan simbolisme religius yang kuat. Sejumlah kajian mencatat bahwa angka 99 memiliki posisi penting dalam tradisi ini karena merujuk pada Asmaul Husna atau 99 nama Allah. Simbolisme tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh nilai-nilai Islam.
Coka Iba juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Maulid yang mencakup pembacaan Barzanji, selawat, zikir, doa bersama, dan kegiatan sosial masyarakat. Karena itu, tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai tontonan budaya, tetapi juga sebagai ruang pendidikan moral, penguatan identitas kolektif, dan pemeliharaan hubungan sosial antarwarga.
Di tengah arus modernisasi, masyarakat Gamrange terus berupaya mempertahankan tradisi tersebut.
Tantangan memang muncul seiring masuknya material modern dan perubahan gaya hidup generasi muda.
Modernisasi mengubah wajah Coka Iba. Para tetua dahulu memahat topeng kayu dari bahan lokal, sedangkan sebagian generasi muda kini menggunakan topeng plastik pabrikan. Perubahan ini memunculkan perdebatan tentang keaslian tradisi dan keberlanjutan warisan keterampilan leluhur.
Ritus topeng monster dari tanah Gamrange ini pada akhirnya bukan sekadar pertunjukan eksotis yang menarik perhatian wisatawan.
Coka Iba merekam jejak pertemuan Islam dan budaya lokal, memperlihatkan kuatnya solidaritas masyarakat, serta menunjukkan kemampuan warga Halmahera merawat warisan leluhur tanpa kehilangan jati dirinya.
Bambu Gila, Ritus Mistis Kesultanan Ternate
