Tradisi Walima menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Gorontalo merayakan spiritualitas dengan cara yang sangat masif, kolosal, dan ekstrem.
Bagi pemeluk Islam di serambi Madinah ini, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar pengajian biasa di dalam masjid. Tradisi kuno yang lahir sejak masa kerajaan abad ke-17 ini mewujud dalam bentuk pembuatan ribuan kue adat yang tersusun rapi membentuk gunungan raksasa.
Walima bukan sekadar pajangan estetis, melainkan simbol persatuan, harga diri, dan kerelaan berkorban demi menghormati hari kelahiran sang nabi.
Akar sejarah perayaan ini bermula ketika Islam masuk dan melebur secara sempurna dengan sistem adat istiadat kerajaan di tanah Gorontalo. Para leluhur sengaja menciptakan media dakwah yang menarik agar masyarakat lebih mudah menyerap dan mencintai nilai-nilai ajaran agama yang baru.
Mereka menggabungkan lantunan zikir semalam suntuk dengan penyediaan panganan lokal secara bergotong-royong sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan berkah.
Pola akulturasi ini melahirkan filosofi mendalam bahwa adat bersendikan syarak, dan syarak bersendikan kitabullah (kitab suci Al-Qur’an).
Mekanisme persiapan acara ini menuntut komitmen fisik dan finansial yang sangat luar biasa dari setiap keluarga di dalam kampung. Sebulan sebelum hari perayaan tiba, kaum perempuan mulai sibuk membuat ratusan kue tradisional seperti kolombengi, wapili, dan tutulu.
Kue-kue kering bertekstur manis ini harus mereka buat dalam jumlah ribuan buah menggunakan tungku kayu tradisional yang berasap tebal. Warga rela menghabiskan tabungan uang mereka demi membeli ratusan kilogram tepung dan telur ayam tanpa memikirkan beban biaya hidup sehari-hari.
Drama sesungguhnya berada pada pembuatan usungan kayu raksasa berbentuk replika masjid, perahu, atau rumah adat yang bernama Toyopo.
Para pria bertugas menata ribuan kue kolombengi ke seluruh permukaan Toyopo, menggunakan tusuk bambu kecil sampai tidak ada celah kayu yang tersisa.
Mereka juga menambahkan hiasan berupa ayam panggang utuh, nasi kuning, telur rebus, dan bungkusan lauk-pauk yang sangat melimpah di bagian dalam usungan. Satu replika Toyopo berukuran besar bisa memiliki bobot hingga ratusan kilogram dan membutuhkan belasan pria dewasa untuk mengangkatnya.
Puncak ketegangan tradisi ini terjadi setelah para jemaah masjid selesai melantunkan zikir khusus (Dikili) tanpa henti selama lebih dari 12 jam.
Ribuan warga dari berbagai penjuru daerah sudah berkerumun dan memadati halaman masjid sejak pagi buta dengan tingkat antusiasme yang sangat tinggi.
Begitu imam masjid memberikan aba-aba tanda doa penutup telah selesai, lautan manusia langsung merseksek maju untuk merayah atau memperebutkan kue Walima. Suasana sakral seketika berubah menjadi arena perebutan yang sangat sengit, riuh, panas, dan menguji ketahanan fisik.
Aksi saling dorong, saling tarik, hingga jeritan anak-anak dan orang dewasa mewarnai momentum perebutan gunungan kue. Hebatnya, meskipun terjadi gesekan fisik yang sangat keras di tengah kepungan massa, tidak pernah ada rasa dendam atau perkelahian setelah acara usai.
Masyarakat Gorontalo percaya bahwa setiap butir kue kolombengi yang berhasil mereka dapatkan dalam perebutan ini membawa berkah keselamatan dan kesehatan. Nilai berkah inilah yang membuat warga mengabaikan rasa sakit akibat terhimpit di tengah kerumunan massa yang liar.
Di era modern yang serbaindustri, ritual kolosal ini tetap tegak berdiri sebagai identitas kultural. Perayaan ini mengajarkan dunia luar tentang arti penting totalitas dalam merawat keyakinan iman serta menjaga solidaritas sosial antartetangga.
Walima berhasil mengubah tumpukan kue kering menjadi semen perekat persaudaraan yang tidak bisa runtuh oleh perbedaan status sosial atau ekonomi.
Sensasi Ekstrem Ulat Sagu, Sumber Protein Suku Kamoro