Dalam sejarah olahraga bridge Indonesia, nama Henky Lasut dan Freddy Manoppo berdiri sebagai simbol keabadian, presisi, dan kejayaan. Mereka bukan hanya pasangan yang paling lama bertahan di tim nasional, tetapi juga ikon yang membentuk standar baru tentang kemitraan, strategi, dan dedikasi.
Dari awal karier masing-masing hingga menjadi pasangan tetap sejak 1982, mereka menorehkan prestasi luar biasa di panggung nasional dan internasional.
Artikel ini mengupas perjalanan lengkap mereka: dari titik awal, puncak kejayaan, hingga warisan abadi yang mereka tinggalkan.
Kepada gambid.id, Freddy Manoppo mengaku dia jarang lagi bermain sepeninggal partner sehatinya tahun 2000.
Meski begitu, dia sukses menjadi pelatih PON Sulut dengan meraih emas di nomor tim beregu putra pada tahun 2024.
Kata Om eddy, sapaan akrabnya, sesekali dia kini bermain membawa nama Indonesia dengan Handojo Susanto.
“Mungkin akhir tahun 2025, akan mengikuti turnamen di Manila Filipina,” katanya.
Freddy Manoppo menceritakan awal dia berpartner dengan Henky Lasut. Menurutnya sebelum keduanya berpasangan, mereka punya partner masing-masing. Hengky Lasut dengan Max Agouw dan dia berpasangan dengan kakaknya Maurilius Manoppo, yang terkenal dengan pasangan Manoppo bersaudara.
Awal Karier: Dua Anak Manado, Dua Jalur Menuju Puncak
Henky Lasut lahir di Manado pada 6 Agustus 1947. Ia mulai bermain bridge sejak usia muda dan menunjukkan bakat luar biasa dalam membaca kartu dan strategi bidding. Karier internasionalnya dimulai pada tahun 1972 saat mewakili Indonesia di Far East Bridge Federation Championship di Singapura. Sejak itu, Hengky menjadi langganan tim nasional dan dikenal sebagai pemain dengan disiplin sistem Precision yang tinggi.
Edy Manopo, juga berasal dari Sulawesi Utara, meniti karier bridge secara paralel. Ia aktif di komunitas bridge lokal dan mulai dikenal sebagai pemain yang tenang, konsisten, dan memiliki intuisi tajam dalam permainan kartu. Meski keduanya sudah aktif sejak 1970-an, mereka baru mulai berpasangan secara tetap pada tahun 1982, dan sejak itu menjadi duet yang tak tergantikan di tim nasional Indonesia.
Chemistry yang Tak Tertandingi
Sejak berpasangan, Hengky dan Edy membangun komunikasi bidding yang sangat presisi. Mereka menggunakan sistem Precision dengan struktur yang konsisten dan disiplin tinggi. Dalam sistem ini, pembukaan 1♣ menunjukkan tangan kuat (16+ HCP), dan mereka mengembangkan variasi partnership yang memungkinkan eksplorasi slam dengan akurasi luar biasa.
Gaya bermain mereka saling melengkapi. Mereka dikenal sebagai pasangan yang sangat sulit dibaca lawan, bahkan oleh pemain top dari Eropa dan Amerika. Dalam banyak pertandingan internasional, lawan mengakui bahwa pasangan Indonesia ini memiliki “sense of timing” dan komunikasi non-verbal yang luar biasa.
Prestasi Dunia: Medali, Gelar, dan Pengakuan Internasional
Selama lebih dari empat dekade, Hengky dan Edy memperkuat Indonesia di berbagai kejuaraan dunia, Asia, dan regional tak terhitung medali juaranya. Namun yang paling berkesan tentu saja adalah ketika mengikuti The 14th Redbull World Bridge Series. Selain meraih peringkat 5 di nomor senior team, keduanya menjadi juara dunia pasangan senior.
Dengan hasil tersebut, pasangan ini berhak atas gelar tertinggi di dunia bridge, Grand Master Senior dari World Bridge Federation Grandmaster. Saat itu, gelar tersebut merupakan satu-satunya di kawasan Asia Pasifik. Bukan hanya itu, di kelompok umum, mereka juga meraih gelar World Life Master gelar tertinggi kedua setelah World Grand Master.
Gelar ini menempatkan mereka sejajar dengan pemain elite dunia dan menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki talenta kelas dunia dalam bridge.
Di tingkat nasional, mereka menerima berbagai penghargaan dari GABSI, termasuk Lifetime Achievement Award, dan penghargaan khusus atas dedikasi mereka dalam membina generasi muda. Hengky-Edy bahkan diabadikan sebagai nama gedung Bridge Center di Stadion Klabat, Manado, sebagai bentuk penghormatan atas warisan yang ia tinggalkan.
Hubungan Seperti Suami Istri: Dinamika Kemitraan
Menjadi pasangan bridge selama lebih dari 40 tahun bukanlah hal mudah. Mereka belajar untuk saling memahami, saling memaafkan, dan yang terpenting: saling percaya.
Dalam bridge, kepercayaan adalah segalanya. Satu kesalahan kecil dalam bidding atau play bisa menghancurkan kontrak. Hengky dan Edy membangun kepercayaan itu melalui ribuan jam latihan, ratusan turnamen, dan puluhan tahun kebersamaan.
Momen Perpisahan: Kepergian Sang Maestro
Pada Jumat, 12 Juni 2020, dunia bridge Indonesia berduka. Hengky Lasut meninggal dunia di RSUP Kandouw, Manado, pada usia 72 tahun. Ia berpulang setelah mengalami penurunan kesehatan sejak Mei 2020. Kabar duka ini menyebar cepat di komunitas bridge nasional dan internasional, dan ucapan belasungkawa datang dari berbagai penjuru dunia.
“Saya kehilangan setengah hidup saya,” kata Om Edy saat itu.
Putri Hengky, Elvita Lasut, yang juga dikenal sebagai atlet bridge, meneruskan pesan ayahnya kepada semua komunitas bridge Sulut.
“Bridge Sulawesi Utara harus tetap mendunia, selepas era saya dan Om Edy Manopo”.
Pesan ini menjadi simbol warisan dan harapan yang dia tinggalkan untuk generasi berikutnya.
Warisan Abadi: Lebih dari Statistik
Hengky Lasut dan Edy Manoppo bukan hanya pasangan bridge dengan medali terbanyak atau gelar terbanyak. Mereka adalah simbol dari apa yang bisa dicapai jika dua orang berkomitmen penuh pada satu tujuan, satu sistem, dan satu visi. Mereka membuktikan bahwa bridge bukan hanya soal kartu, tapi soal karakter, kesetiaan, dan ketekunan.
Warisan mereka hidup dalam generasi baru pemain bridge Indonesia. Banyak atlet muda yang belajar dari sistem mereka, menonton rekaman pertandingan mereka, dan menjadikan mereka panutan. Bahkan hingga hari ini, nama “Hengky–Edy” masih disebut dalam diskusi strategi, pelatihan pelatnas, dan seminar bridge nasional.
Penutup: Sebuah Kisah yang Tak Akan Terulang
Pasangan seperti Hengky Lasut dan Edy Manopo mungkin hanya lahir sekali dalam satu generasi. Mereka bukan hanya legenda, tapi juga fondasi dari kejayaan bridge Indonesia. Dari meja kecil di Manado hingga panggung dunia, mereka membawa nama Indonesia dengan kehormatan dan kelas.
Dalam dunia bridge, banyak pasangan datang dan pergi. Tapi hanya sedikit yang abadi. Hengky dan Edy adalah salah satunya.