Nostalgia Dominasi Gabmo dan Saran untuk Kejurnas Bridge

Sejarah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Bridge Indonesia tidak bisa lepas dari nama besar Gabmo (Gabungan Bridge Manado). Di setiap helatan, terutama nomor bergengsi Antar Gabungan, Gabmo selalu hadir sebagai ikon yang membentuk identitas Kejurnas itu sendiri.

Kejurnas bukan sekadar ajang pertandingan, melainkan panggung tradisi, gengsi, dan rivalitas antar daerah yang melahirkan legenda. Dari Scorpio Bowl 1965 hingga format modern, kisah Kejurnas selalu berkelindan dengan perjalanan Gabmo.

Gabmo: Raja Antar Gabungan

Dalam sejarah panjang Kejurnas Bridge Indonesia, satu nama selalu muncul sebagai legenda: Gabmo (Gabungan Bridge Manado). Sejak awal era Kejurnas Antar Gabungan, Gabmo dikenal sebagai penguasa meja hijau, tim yang selalu menjadi kandidat kuat juara.

Dominasi mereka begitu kuat, dengan deretan gelar yang diraih secara beruntun, menjadikan Gabmo simbol kejayaan bridge Sulawesi Utara. Nama‑nama seperti Henky Lasut, Eddy Manoppo, Robby Lempoy, Jacky Tirajoh, Ch. Nurhamidin, Sawon Mandey, Eugene Maury adalah sebagian pemain Gabmo di masa jayanya.

Rival abadi Gabmo adalah Jakpus (Jakarta Pusat). Pertemuan kedua tim ini sering menjadi partai final idaman, menjadi panggung duel klasik antara kekuatan daerah dan pusat ibukota.

Kekuatan lain datang dari Jakarta Selatan (Jaksel) dan Jakarta Utara (Jakut). Uniknya, para pemain Jakarta sebagian besar juga berdarah Manado, sebagian mereka hengkang dari daerah dan bekerja di ibukota.

Sebut saja nama Denny Sacul, Ferdy Walujan, Bert Toar Polii, Donny Tuerah, Franky Karwur, Santje Panelewen dan masih banyak lagi. Setiap kali Gabmo dan Jakpus bertemu, atmosfer Kejurnas berubah menjadi arena penuh gengsi, di mana setiap papan bisa menentukan sejarah.

Gabmo pernah mencatat delapan kali juara berturut‑turut, sebuah pencapaian yang tak tertandingi. Namun, sejarah mencatat satu momen ironis yang tak pernah akan terlupakan: Kejurnas 2005 di Manado.

Di hadapan publik sendiri, Gabmo justru tumbang di partai final. Lebih menyakitkan lagi, kekalahan itu datang bukan dari rival klasik Jakpus, melainkan dari “saudara” sendiri, Gabmin (Gabungan Bridge Minahasa).

Kala itu Franky Karwur dan Santje Panelewen turun memperkuat tanah kelahirannya. Pertarungan itu menjadi simbol bahwa kejayaan tidak pernah abadi. Gabmo yang begitu dominan harus menerima kenyataan pahit di kandang sendiri.

Kekalahan dari Gabmin menorehkan bab baru dalam sejarah Kejurnas, bahwa persaingan internal Sulawesi Utara pun bisa melahirkan drama besar.

Sejarah Kejurnas

Kejurnas Bridge pertama kali digelar tahun 1965 di Jakarta dengan nomor Antar Kota, memperebutkan Scorpio Bowl. Nama piala ini diambil dari perusahaan otomotif Scorpio Motors, milik Alex Frans Logyantara, yang sekaligus menjadi pencetus event.

Sejak awal, format pertandingan menuntut kekuatan kolektif: setiap regu terdiri dari kombinasi tiga tim empat‑kawan, dengan jumlah pemain minimum 12 orang dan maksimum 18 orang.

Tahun 1969, piala berganti menjadi Piala Presiden Soeharto, menandai legitimasi nasional. Pada tahun 1972, nomor ini resmi berganti nama menjadi Antar Gabungan, menegaskan identitasnya sebagai pertarungan antar kabupaten/kota.

Karena jumlah peserta terus bertambah, sejak 1974 peserta dibagi dalam dua klasemen. Klasemen A terdiri dari delapan gabungan terbaik hasil Kejurnas sebelumnya, sementara sisanya masuk klasemen B. Tahun 1975, Sidang Pengda di Banjarmasin menambah jumlah peserta klasemen A menjadi 10 gabungan.

Kemudian, berdasarkan keputusan Kongres GABSI tahun 1980 di Baleendah, Bandung, sejak 1982 setiap tim Antar Gabungan terdiri dari kombinasi dua tim empat‑kawan, dan jumlah peserta klasemen A bertambah menjadi 16 gabungan.

Transformasi format terus berlanjut. Kongres GABSI 2010 di Batam mengubah sistem menjadi hanya satu pat‑kawan untuk Antar Gabungan. Sistem pertandingan dua pat‑kawan kini khusus untuk nomor Antar Provinsi.

Lahirnya Kejurnas Antar Provinsi

Nomor Antar Provinsi baru dimulai pada 1995 di Kuta, Bali, dengan format satu pat‑kawan. Kehadirannya menambah bobot Kejurnas karena mempertemukan kekuatan provinsi besar seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara.

Seiring perkembangan, pada 2012 di Jakarta, format berubah menjadi dua pat‑kawan, menambah kompleksitas strategi dan kedalaman kompetisi. Nomor ini segera menjadi salah satu yang paling bergengsi, karena mempertemukan kekuatan provinsi dengan basis pembinaan yang lebih luas.

Setelah mempelajari perkembangan bridge sejak 1971, ide untuk menggabungkan kedua nomor besar ini muncul pada Kejurnas Bridge Lubuk Linggau 2016. Tujuannya agar event bisa ada setiap tahun, menjaga kontinuitas pembinaan, sekaligus memberi subsidi silang antara provinsi dan kabupaten/kota.

Gayung bersambut, Mukernas GABSI Lubuk Linggau meminta PB GABSI mempelajari ide ini. Akhirnya ide ini terwujud: 2017 di Sidoarjo, kedua event ada dalam satu Kejurnas.

Namun, dinamika organisasi membuat format kembali berubah. Tahun 2019 di Jakarta, hanya ada nomor Antar Provinsi karena dikaitkan dengan PRA‑PON Papua 2020.

Pada Tahun 2022 di Solo, giliran nomor Antar Gabungan. Tahun 2023, kembali hanya Antar Provinsi karena ada PRA‑PON Sumut–Aceh 2024.

Selain dua nomor utama, Kejurnas Bridge berkembang ke kategori lain yang menjadi fondasi regenerasi: Antar Mahasiswa dan Antar Pelajar.

Nomor Antar Mahasiswa lahir dari kebutuhan membina atlet muda di tingkat perguruan tinggi. Kompetisi ini penting karena melahirkan pemain yang sudah matang secara teori, terbiasa dengan atmosfer kompetisi, dan siap naik ke level provinsi maupun nasional. Mahasiswa menjadi jembatan antara pembinaan usia sekolah dengan panggung Kejurnas utama.

Sementara itu, nomor Antar Pelajar lebih dini lagi, menjadi ajang pembinaan sejak usia sekolah. Dengan semakin banyaknya Porkot dan Porprov yang mempertandingkan bridge, kategori pelajar menjadi fondasi regenerasi yang kokoh. Dari sini lahir bibit‑bibit baru yang kelak mengisi tim gabungan maupun provinsi.

Indonesia Open

Lahirnya Indonesia Open menjadi tonggak penting dalam perjalanan bridge nasional karena membuka ruang kompetisi yang lebih inklusif di luar nomor tradisional seperti Antar Gabungan dan Antar Provinsi.

Jika kedua nomor utama identik dengan representasi daerah, maka Indonesia Open hadir sebagai ajang terbuka bagi klub dan komunitas untuk mengukur kemampuan di panggung nasional.

Format ini memberi kesempatan bagi pemain muda maupun senior untuk beradu strategi tanpa batasan geografis, sekaligus menjadi laboratorium pembinaan yang mempertemukan berbagai gaya bermain.

Dengan atmosfer kompetisi yang lebih cair, Indonesia Open melengkapi ekosistem Kejurnas, menjembatani regenerasi dan memperluas basis partisipasi. Sayangnya, kehadiran tim asing dari luar negeri sangat kurang dalam ajang ini, mungkin karena keterbatasan hadiah.

KRITIK DAN SARAN

Jadwal yang tidak konsisten dan format yang tumpang tindih antara Antar Gabungan dan Antar Provinsi membuat kalender Kejurnas terasa kabur. Akibatnya, identitas Kejurnas jadi membingungkan: publik tidak tahu mana yang sebenarnya menjadi nomor utama dan gengsi event pun berkurang.

Sudah saatnya, PB GABSI perlu berani melakukan re‑desain kalender Kejurnas Bridge. Jika ingin menjaga gengsi, kini waktu yang tepat untuk menegaskan bahwa Antar Gabungan kembali ke format dua pat‑kawan sebagai nomor utama. Ajang ini bisa dua tahun sekali, sehingga tradisi panjangnya tetap terjaga dan kualitas kompetisi tidak tergerus.

Yang perlu menjadi catatan, atur dan permudah juga syarat transfer pemain, jika ada gabungan yang kekurangan pemain. Ini untuk menjaga ketatnya persaingan di event utama.

Persaingan antar Provinsi sudah memiliki ajang tersendiri di PON, sehingga ada baiknya menghapus format ini dalam Kejurnas atas nama prestise.

Untuk jalur regenerasi, Kejurnas Pelajar, Mahasiswa dan Junior juga harus ada panggung tersendiri, dengan siklus dua tahun sekali.

Sementara itu, Gabsi bisa menggelar Indonesia Open bisa setiap tahun sebagai ajang terbuka yang prestisenya lebih berasa. Cari sponsor dan dukungan pemerintah agar bisa menarik minat tim luar negeri.

Dengan pola ini, kalender tidak bertabrakan dengan PON, dan setiap event punya posisi jelas: Gabungan untuk tradisi, Indonesia Open untuk prestise, Pelajar, Mahasiswa dan Junior untuk regenerasi.

Latihan Declarer: Mengunci Tangan Bahaya di Timur

 

Tinggalkan komentar