Daftar juara dunia catur terus bertambah seiring waktu. Hingga kini, tercatat ada 21 pemain dengan kemampuan luar biasa yang berhasil menyandang gelar juara dunia.

Sebelum gelar resmi catur lahir, dunia mengenal Paul Morphy dari Amerika Serikat sebagai pemain terkuat pada masanya. Hingga kini, banyak orang menempatkan Morphy sebagai “juara dunia tanpa mahkota” karena dominasinya atas para master Eropa.
Gelar resmi pertama muncul pada 1886 di Amerika Serikat. Wilhelm Steinitz dari Austria-Hungaria menantang Johannes Zukertort dari Inggris dalam pertandingan bersejarah untuk menentukan siapa yang layak menjadi juara dunia sejati.
Di era tersebut, dunia catur juga mengenal tiga nama besar lainnya. Adolf Anderssen (Jerman Timur), Louis Paulsen (Jerman Barat), dan Joseph Henry Blackburne (Inggris). Sebelum gelar juara dunia resmi lahir, Steinitz sudah menunjukkan dominasinya di Eropa.
Pada turnamen tahun 1866 di Inggris, ia mengalahkan Anderssen dengan skor 8–6. Ia kemudian menundukkan Zukertort 7–1 pada tahun 1872, dan menang telak atas Blackburne 7–0 di final tahun 1876.
Namun pada tahun 1883, format pertandingan berubah menjadi sistem round-robin ganda yang melibatkan 14 pemain terbaik dunia. Zukertort tampil sebagai pemuncak klasemen dan meraih gelar juara Eropa.
Hal ini memicu perdebatan tentang siapa yang sebenarnya lebih unggul. Untuk mengakhiri spekulasi, Steinitz menantang Zukertort dalam pertandingan resmi dengan format siapa yang lebih dulu meraih 10 kemenangan. Pertandingan berlangsung di tiga kota: New York, St. Louis, dan New Orleans.
Bersiaplah mengikuti tur sejarah perebutan gelar juara dunia catur. Sebuah perjalanan panjang penuh drama dan legenda, persembahan khusus Gambid.id
Daftar Juara Dunia Catur dari Masa ke Masa
William Steinitz

Steinitz mencatat kemenangan dengan skor 10–5 dan 5 hasil imbang, lalu sejarah menobatkannya sebagai juara dunia pertama. Ia bukan hanya pemenang, tetapi juga pelopor pendekatan ilmiah dalam catur—menggeser gaya romantik penuh pengorbanan menjadi strategi posisional yang lebih sistematis dan tahan uji.
Gelar ini membuka era baru dalam sejarah catur, di mana gelar juara dunia menjadi simbol supremasi intelektual dan strategi tingkat tinggi.
Steinitz kemudian mempertahankan gelarnya dalam beberapa pertandingan penting. Pada tahun 1889, ia menghadapi Mikhail Chigorin dari Kekaisaran Rusia (bukan Uni Soviet, karena USSR baru berdiri tahun 1922). Dalam format 20 pertandingan, Steinitz menang dengan 10 kemenangan dan 6 kekalahan, tanpa hasil imbang—menunjukkan gaya bermain yang agresif dan penuh risiko.
Pada tahun 1890–1891, Isidor Gunsberg—pecatur kelahiran Hungaria yang mewakili Inggris—menantang Steinitz kembali. Steinitz mempertahankan gelarnya dengan skor 6 kemenangan, 9 hasil imbang, dan 4 kekalahan. Pertandingan ini menunjukkan sisi strategis Steinitz yang lebih hati-hati, dengan banyak partai berakhir imbang.
Mikhail Chigorin kembali menantang Steinitz pada tahun 1892 dalam pertandingan yang sangat ketat. Keduanya berbagi 8 kemenangan dan 4 hasil imbang, namun Steinitz berhasil memenangkan dua partai tiebreak dan mempertahankan gelarnya. Pertandingan ini menjadi salah satu duel paling dramatis dalam sejarah awal kejuaraan dunia, memperkuat reputasi Steinitz sebagai pionir strategi posisional dan pemikir sistematis dalam catur modern.
Pada tahun 1894, Emanuel Lasker—seorang profesor matematika asal Jerman—menantang Wilhelm Steinitz dalam format pertandingan siapa yang lebih dulu meraih 10 kemenangan. Kali ini, Steinitz gagal mempertahankan gelarnya.
Ia kalah dengan 10 kekalahan dan hanya meraih 5 kemenangan. Dua tahun kemudian, Steinitz meminta pertandingan ulang dengan format yang sama, namun Lasker kembali menunjukkan dominasinya. Steinitz hanya mampu mencatatkan 2 kemenangan dan kembali kalah telak.
Emanuel Lasker

Emanuel Lasker kemudian memegang gelar juara dunia selama 27 tahun—masa terlama yang pernah dicatatkan oleh seorang juara dunia catur hingga kini. Selama periode itu, ia sukses mempertahankan gelarnya melawan sejumlah penantang kuat: Frank Marshall (1907), Siegbert Tarrasch (1908), Carl Schlechter (1910), dan Dawid Janowski (1910).
Gaya bermain Lasker dikenal fleksibel dan psikologis—ia sering memilih langkah yang tidak konvensional untuk mengganggu ritme lawan, bukan sekadar mencari langkah terbaik secara objektif.
Pertandingan berikutnya baru terjadi pada tahun 1921, tertunda cukup lama akibat Perang Dunia I. Kali ini, Lasker menghadapi “penyihir dari Kuba”, José Raúl Capablanca, dalam format 24 pertandingan.
Duel ini menjadi titik transisi penting dalam sejarah catur, mempertemukan dua pendekatan yang sangat berbeda: Lasker dengan gaya psikologisnya, dan Capablanca dengan teknik posisional yang bersih dan efisien
Jose Raul Capablanca

José Raúl Capablanca, sang “penyihir dari Kuba,” merebut gelar juara dunia pada tahun 1921 setelah Emanuel Lasker menyerah di game ke-14. Lasker tertinggal jauh dengan 10 kekalahan dan hanya meraih 4 kemenangan, membuatnya memilih mundur sebelum pertandingan mencapai batas maksimal.
Enam tahun kemudian, pada 1927, Capablanca menghadapi penantang tangguh: Alexander Alekhine, pecatur kelahiran Rusia yang mewakili Prancis. Pertandingan ini menggunakan format siapa yang lebih dulu meraih 6 kemenangan, tanpa batas jumlah game.
Pertemuan mereka berlangsung sangat panjang dan penuh ketegangan. Sebanyak 25 partai berakhir imbang, menunjukkan betapa seimbang dan kerasnya duel antara dua gaya yang sangat berbeda—Capablanca dengan efisiensi posisionalnya, dan Alekhine dengan kreativitas taktis yang agresif.
Pertandingan ini menjadi salah satu duel paling legendaris dalam sejarah catur, bukan hanya karena durasinya, tetapi karena benturan dua pendekatan catur yang sama-sama brilian. Capablanca, yang sebelumnya dianggap tak terkalahkan, akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa dominasi teknis pun bisa ditaklukkan oleh strategi yang lebih kompleks dan penuh kejutan.
Alexander Alekhine

Alexander Alekhine merebut gelar juara dunia pada tahun 1927 setelah mengalahkan José Raúl Capablanca dalam pertandingan panjang yang menggunakan format “siapa yang lebih dulu menang enam kali.”
Alekhine mencatatkan enam kemenangan, tiga kekalahan, dan dua puluh lima hasil imbang—sebuah duel stamina dan strategi yang menandai berakhirnya dominasi Capablanca.
Kemenangan ini mengejutkan banyak pihak, karena Capablanca sebelumnya dianggap nyaris tak terkalahkan. Alekhine tampil dengan gaya agresif dan penuh kombinasi taktis, mematahkan pendekatan posisional bersih milik Capablanca.
Setelah menjadi juara dunia, Alekhine mempertahankan gelarnya dalam dua pertandingan melawan Efim Bogoljubow, pecatur Jerman kelahiran Ukraina. Pertemuan pertama berlangsung pada tahun 1929, dan Alekhine menang dengan skor meyakinkan.
Lima tahun kemudian, pada 1934, keduanya kembali bertemu dalam pertandingan ulang. Hasilnya tetap sama—Alekhine kembali keluar sebagai pemenang. Gaya bermain Alekhine yang penuh kreativitas dan tekanan taktis membuatnya sulit ditandingi, bahkan oleh pemain-pemain top Eropa saat itu.
Alekhine dikenal sebagai juara dunia yang sangat aktif secara intelektual. Ia menulis banyak analisis, berpartisipasi dalam turnamen, dan terus mengembangkan teori pembukaan. Ia juga menjadi juara dunia pertama yang mempertahankan gelarnya melalui pertandingan resmi lebih dari satu kali. Memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah catur.
Max Euwe

Pada tahun 1935, Alexander Alekhine menerima tantangan dari pecatur Belanda, Max Euwe. Dalam pertandingan yang mengejutkan dunia catur, Alekhine kalah dan gelar juara dunia berpindah tangan ke Euwe. Kemenangan ini bukan hanya bersejarah bagi Belanda, tetapi juga menjadi bukti bahwa pendekatan logis dan sistematis Euwe mampu menaklukkan gaya taktis dan agresif milik Alekhine.
Dua tahun kemudian, pada 1937, Alekhine meminta pertandingan ulang dan berhasil merebut kembali gelarnya, menunjukkan bahwa rivalitas mereka bukan sekadar duel teknik, tetapi juga pertarungan mental dan stamina.
Setelah itu, dunia catur mengalami jeda panjang akibat Perang Dunia II. Tidak ada pertandingan resmi selama beberapa tahun, dan pada tahun 1946, Alexander Alekhine meninggal dunia saat masih memegang gelar juara dunia.
Kepergiannya meninggalkan kekosongan gelar, dan untuk pertama kalinya, tidak ada juara dunia yang aktif. Momen ini menjadi titik balik bagi FIDE (Fédération Internationale des Échecs), federasi catur dunia, untuk mengambil alih penyelenggaraan kejuaraan dunia secara resmi dan terstruktur.
FIDE memutuskan bahwa kejuaraan dunia akan diadakan setiap tiga tahun, dimulai pada tahun 1948. Untuk menentukan juara baru, FIDE mengundang enam dari delapan peserta turnamen AVRO 1938 di Belanda—turnamen elit yang saat itu dianggap sebagai ajang seleksi informal calon juara dunia.
Mereka adalah Paul Keres dan Mikhail Botvinnik dari Uni Soviet, Max Euwe dari Belanda, Reuben Fine dan Samuel Reshevsky dari Amerika Serikat, serta Salo Flohr dari Cekoslowakia. Dua peserta lainnya, Alekhine dan Capablanca, telah wafat.
Dalam turnamen AVRO 1938 yang menggunakan sistem round-robin ganda, Paul Keres keluar sebagai juara, diikuti oleh Reuben Fine di posisi kedua. Alekhine hanya menempati peringkat keenam, sementara Capablanca berada di urutan ketujuh—menunjukkan bahwa generasi baru pecatur mulai mendominasi.
FIDE menggelar turnamen 1948 dengan Vasily Smyslov menggantikan Salo Flohr, sementara Reuben Fine mundur. Turnamen lima peserta berformat round-robin lima putaran itu menandai era baru kejuaraan dunia di bawah kendali FIDE.
Mikhail Botvinnik

Mikhail Botvinnik akhirnya meraih gelar juara dunia pada tahun 1948 setelah menempati posisi teratas dalam turnamen FIDE yang menentukan pengganti Alexander Alekhine. Dua rekan senegaranya, Vasily Smyslov dan Paul Keres, masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga, menandai awal dominasi Uni Soviet dalam catur dunia. Botvinnik dikenal sebagai “bapak catur Soviet”—seorang ilmuwan dan pemikir strategis yang membawa pendekatan metodologis ke dalam permainan.
Tiga tahun kemudian, pada 1951, Botvinnik menghadapi tantangan dari David Bronstein dalam format baru: pertandingan 24 babak. Duel mereka berakhir imbang dengan masing-masing meraih 5 kemenangan, 5 kekalahan, dan 14 hasil seri. Sesuai aturan FIDE saat itu, jika pertandingan berakhir seri, sang juara bertahan tetap mempertahankan gelarnya. Maka Botvinnik tetap dinyatakan sebagai juara dunia.
Hal serupa terjadi pada tahun 1954, ketika Botvinnik bertemu Vasily Smyslov dalam pertandingan yang juga berakhir imbang. Keduanya mencatatkan 7 kemenangan, 7 kekalahan, dan 10 hasil seri. Sekali lagi, Botvinnik mempertahankan gelarnya berkat status juara bertahan.
Dua pertandingan ini menunjukkan betapa kuatnya posisi Botvinnik, bukan hanya sebagai pemain, tetapi juga sebagai figur sentral dalam sistem catur Soviet yang sangat terstruktur dan kompetitif. Ia bukan hanya juara dunia, tapi juga arsitek generasi pecatur elite yang akan mendominasi dekade-dekade berikutnya.
Vasily Smyslov

Pada tahun 1957, Vasily Smyslov kembali bertemu Mikhail Botvinnik dalam pertandingan perebutan gelar juara dunia. Kali ini, Smyslov tampil lebih tajam dan berhasil mengalahkan Botvinnik dengan 6 kemenangan, 3 kekalahan, dan 13 hasil imbang.
Kemenangan ini menjadikannya juara dunia baru, sekaligus menandai puncak karier dari salah satu pecatur paling elegan dalam sejarah. Gaya bermain Smyslov dikenal harmonis dan alami—ia mengandalkan intuisi posisional dan koordinasi antar-pieces yang nyaris sempurna.
Namun, sesuai aturan FIDE saat itu, juara yang kalah berhak meminta pertandingan ulang pada tahun berikutnya. Botvinnik memanfaatkan hak tersebut dan pada tahun 1958, ia berhasil merebut kembali gelarnya.
Dalam pertandingan ulang itu, Botvinnik menang dengan skor 7 kemenangan, 5 kekalahan, dan 11 hasil imbang. Duel ini menunjukkan betapa kuatnya karakter dan daya tahan mental Botvinnik, yang mampu bangkit dari kekalahan dan kembali ke puncak.
Dua tahun kemudian, pada 1960, Botvinnik menghadapi tantangan baru dari seorang jenius muda yang dijuluki “penyihir dari Riga”—Mikhail Tal. Tal membawa gaya bermain yang sangat berbeda: penuh pengorbanan, taktis, dan intuitif. Pertemuan mereka menjadi benturan antara logika sistematis Botvinnik dan imajinasi liar Tal, membuka babak baru dalam sejarah kejuaraan dunia catur.
Mikhail Tal

Mikhail Tal, si “penyihir dari Riga,” merebut gelar juara dunia pada tahun 1960. Gaya bermainnya penuh taktik dan pengorbanan brilian. Ia mengalahkan Mikhail Botvinnik dengan skor 6 kemenangan, 2 kekalahan, dan 13 hasil imbang.
Tal dikenal karena kemampuannya menciptakan kekacauan di papan—membuat lawan kehilangan arah dalam posisi yang tampak biasa. Kemenangannya menjadi simbol bahwa imajinasi dan keberanian bisa menaklukkan sistem yang paling disiplin sekalipun.
Namun, sesuai aturan FIDE saat itu, Botvinnik berhak meminta pertandingan ulang pada tahun berikutnya. Pada 1961, ia berhasil merebut kembali gelarnya dengan skor 10 kemenangan, 5 kekalahan, dan 6 hasil imbang.
Botvinnik melakukan persiapan yang sangat sistematis dan berhasil meredam gaya agresif Tal dengan pendekatan posisional yang lebih solid dan terstruktur. Pertandingan ini menunjukkan bahwa dalam catur, adaptasi dan pembelajaran bisa menjadi senjata yang lebih tajam dari taktik murni.
Dua tahun kemudian, pada 1963, Botvinnik kembali ditantang oleh rekan senegaranya dari Uni Soviet, Tigran Petrosian. Kali ini, Botvinnik harus mengakui ketangguhan lawannya. Petrosian menang dengan 5 kemenangan, hanya kalah 2 kali, dan mencatatkan 15 hasil imbang.
Gaya bermain Petrosian yang sangat defensif dan penuh kontrol ruang membuatnya sulit ditembus. Ia dikenal sebagai “master of prophylaxis”—selalu satu langkah di depan dalam mencegah ancaman lawan. Kemenangan Petrosian menandai berakhirnya era Botvinnik sebagai juara dunia, sekaligus membuka babak baru dalam dominasi Soviet di panggung catur dunia.
Tigran Petrosian

Tigran Petrosian resmi menjadi juara dunia catur pada tahun 1963 setelah mengalahkan Mikhail Botvinnik. Namun kali ini, aturan “hak tanding ulang” yang sebelumnya memungkinkan Botvinnik untuk merebut kembali gelarnya sudah tidak berlaku. Petrosian pun menjadi juara dunia baru tanpa ancaman langsung dari sang mantan juara.
Gaya bermainnya sangat khas—defensif, penuh antisipasi, dan nyaris tak bisa ditembus. Ia dikenal sebagai “master of prophylaxis,” selalu mencegah ancaman sebelum ancaman itu muncul.
Pada tahun 1966, Petrosian menghadapi tantangan dari Boris Spassky, rekan senegaranya dari Uni Soviet. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat, Petrosian berhasil mempertahankan gelarnya dengan 4 kemenangan, 3 kekalahan, dan 17 hasil imbang.
Ia menunjukkan bahwa pertahanan yang solid dan kontrol ruang bisa menjadi senjata ampuh melawan gaya bermain Spassky yang lebih dinamis dan agresif. Tiga tahun kemudian, pada 1969, Spassky kembali menantang Petrosian dalam pertandingan ulang—sebuah duel yang akan menentukan arah baru dalam sejarah kejuaraan dunia catur.
Boris Spassky

Dengan persiapan yang lebih matang, Boris Spassky akhirnya berhasil merebut gelar juara dunia pada tahun 1969 setelah mengalahkan Tigran Petrosian. Ia mencatatkan 6 kemenangan, 4 kekalahan, dan 13 hasil imbang—sebuah kemenangan yang menandai transisi dari gaya bertahan Petrosian ke pendekatan yang lebih fleksibel dan dinamis milik Spassky. Sebagai pemain, Spassky dikenal karena kemampuannya beradaptasi dengan berbagai gaya lawan, menggabungkan taktik tajam dengan strategi posisional yang solid.
Tiga tahun kemudian, pada 1972, Spassky menghadapi tantangan dari seorang jenius muda asal Amerika Serikat: Robert James Fischer, atau lebih dikenal sebagai Bobby Fischer. Pertemuan mereka bukan sekadar pertandingan catur, melainkan simbol benturan dua kekuatan dunia—Amerika Serikat dan Uni Soviet—di tengah ketegangan Perang Dingin.
Pertandingan ini menarik perhatian global, menjadikan duel Spassky vs Fischer sebagai salah satu momen paling ikonik dalam sejarah catur dan geopolitik abad ke-20.
Bobby Fischer

Bobby Fischer resmi menjadi juara dunia catur pada tahun 1972 setelah mengalahkan Boris Spassky dengan skor 7 kemenangan, 3 kekalahan, dan 11 hasil imbang. Kemenangan ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga peristiwa geopolitik yang mengguncang dunia catur.
Fischer berhasil mematahkan dominasi Uni Soviet yang telah menguasai gelar juara dunia sejak sistem FIDE diberlakukan pada tahun 1948. Selama hampir tiga dekade, semua juara dunia dan penantangnya berasal dari Soviet—hingga Fischer datang sebagai satu-satunya pemain Amerika yang mampu menembus benteng tersebut.
Sebelumnya, Wilhelm Steinitz memang pernah menjadi juara dunia (1886–1892), namun saat itu kejuaraan belum berada di bawah naungan FIDE. Steinitz sendiri lahir di Austria dan baru kemudian menjadi warga negara Amerika. Maka Fischer tetap tercatat sebagai pecatur Amerika pertama dan satu-satunya yang meraih gelar juara dunia dalam era FIDE.
Kemenangan Fischer mendapat sorotan luar biasa, terutama saat ia kembali ke Amerika Serikat. Di sisi lain, Uni Soviet yang selama ini menjadi kiblat catur dunia merasa tersinggung dan terancam. Aroma politik mulai meresap ke dalam olahraga catur, menjadikan duel Fischer vs Spassky sebagai simbol benturan dua kekuatan global di tengah Perang Dingin.
Pada tahun 1975, Fischer dijadwalkan untuk mempertahankan gelarnya melawan Anatoly Karpov dari Uni Soviet. Pertandingan rencananya akan digelar di Manila, Filipina. Namun duel itu tak pernah terjadi. Fischer memilih mundur dan melepaskan gelarnya karena FIDE menolak syarat yang ia ajukan. Ia ingin mengubah format pertandingan dari “best of 24 games” menjadi “first to 10 wins”—tanpa batas jumlah game dan tanpa mempertimbangkan hasil imbang.
Penolakannya terhadap sistem yang ada membuat Fischer mundur dari panggung catur dunia, meninggalkan gelar juara tanpa tanding, dan membuka jalan bagi era baru yang akan dipimpin oleh Karpov.
Anatoly Karpov

Anatoly Karpov menjadi juara dunia pada tahun 1975 tanpa harus mengalahkan Bobby Fischer secara langsung. Fischer memilih mundur dan melepaskan gelarnya karena FIDE menolak syarat format pertandingan yang ia ajukan. Karpov pun naik sebagai juara dunia melalui penunjukan resmi.
Karpov mulai mempertahankan gelarnya secara aktif pada tahun 1978, saat menghadapi Viktor Korchnoi di Filipina. Dalam format “first to 6 wins,” Karpov menang dengan 6 kemenangan, 5 kekalahan, dan 21 hasil imbang. Pertandingan ini penuh ketegangan, tidak hanya karena kualitas permainan, tetapi juga karena latar belakang politik dan psikologis yang menyelimuti kedua pemain.
Tiga tahun kemudian, pada 1981, Korchnoi kembali menantang Karpov, kali ini sebagai wakil Swiss setelah membelot dari Uni Soviet. Format tetap sama, namun Karpov tampil lebih dominan: menang 6 kali, kalah 2 kali, dan mencatatkan 10 hasil imbang.
Pada tahun 1984, Karpov menghadapi tantangan dari seorang jenius muda Soviet bernama Garry Kasparov. Pertandingan ini mencatat diri sebagai duel paling terkenal dalam sejarah catur, bahkan melampaui perhatian global yang pernah menyertai duel Spassky vs Fischer.
Format tetap “first to 6 wins,” dan Karpov memulai dengan sangat kuat: 4 kemenangan dan 5 hasil imbang dalam 9 game pertama. Banyak yang memprediksi Karpov akan menang telak 6–0.
Namun Kasparov bertahan luar biasa. Ia mencatatkan 17 hasil imbang berturut-turut, lalu kalah lagi di game ke-25 (skor menjadi 5–0). Di game ke-32, Kasparov mencuri satu kemenangan (5–1), lalu terus bertahan hingga game ke-46. Ia kemudian menambah dua kemenangan lagi di game ke-47 dan 48, memperkecil ketertinggalan menjadi 5–3.
Pertandingan ini berlangsung begitu panjang dan intens hingga akhirnya FIDE menghentikannya tanpa pemenang resmi—menjadikannya satu-satunya pertandingan kejuaraan dunia yang batal di tengah jalan karena alasan kesehatan dan tekanan mental. Duel ini membuka babak baru dalam rivalitas legendaris antara Karpov dan Kasparov.
Garry Kasparov

Garry Kasparov resmi menjadi juara dunia pada tahun 1985 setelah mengalahkan Anatoly Karpov dalam pertandingan ulang yang menggunakan format baru: best of 24 games. Ia mencatatkan 5 kemenangan, 3 kekalahan, dan 16 hasil imbang.
Kemenangan ini menjadikan Kasparov sebagai juara dunia termuda dalam sejarah, memecahkan rekor Mikhail Tal yang telah bertahan lebih dari dua dekade. Sebelumnya, pertandingan pertama mereka pada tahun 1984 dihentikan oleh FIDE karena alasan kesehatan dan tekanan mental, dengan skor 5–3 dan 40 hasil imbang—tanpa pemenang resmi.
Karpov mencoba merebut kembali gelarnya sebanyak tiga kali: pada tahun 1986, 1987, dan 1990. Namun dalam ketiga kesempatan itu, Kasparov tetap unggul.
Pada tahun 1993, Kasparov menghadapi Nigel Short, pecatur Inggris yang tampil impresif dengan mengalahkan Karpov di semifinal dan Jan Timman di final turnamen kandidat. Namun sebelum pertandingan kejuaraan dunia berlangsung, konflik antara Kasparov dan FIDE memuncak. Kasparov dan Short memutuskan untuk menggelar pertandingan tanpa keterlibatan FIDE, dan mendirikan organisasi tandingan bernama Professional Chess Association (PCA).
Sebagai respons, FIDE mengadakan pertandingan tersendiri antara Karpov dan Jan Timman untuk memperebutkan gelar versi FIDE yang kosong. Hasilnya, Kasparov menang telak atas Short (6–1), dan Karpov juga menang mutlak atas Timman (6–2).
Tahun 1993 pun mencatat dua juara dunia: Kasparov versi PCA dan Karpov versi FIDE—menandai awal dari era perpecahan gelar juara dunia catur.
Kasparov mempertahankan gelarnya pada tahun 1995 dengan mengalahkan Viswanathan Anand dari India, mencatatkan 4 kemenangan, 1 kekalahan, dan 13 hasil imbang. Di sisi lain, Karpov juga mempertahankan gelar versi FIDE pada tahun 1996 dengan mengalahkan Gata Kamsky dari Amerika Serikat, dengan skor 6 kemenangan, 3 kekalahan, dan 9 hasil imbang. Kedua pertandingan menggunakan format best of 20 games.
Pada tahun 1998, FIDE kembali menggelar pertandingan kejuaraan dunia antara Karpov dan Anand. Setelah hasil imbang dalam enam game reguler (2 kemenangan, 2 kekalahan, dan 2 hasil imbang), Karpov menang dua kali di babak tiebreak dan mempertahankan gelarnya.
Namun setelah pertandingan, konflik klasik kembali muncul. Karpov berselisih dengan FIDE terkait perubahan format ke sistem knockout. Ia menolak sistem tersebut karena dianggap tidak menghormati status juara bertahan, dan akhirnya memilih mundur dari gelar juara dunia.
Alexander Khalifman

Pada tahun 1999, FIDE kembali menggelar kejuaraan dunia catur dengan format knockout yang kontroversial. Di babak final, Alexander Khalifman dari Rusia berhadapan dengan Vladimir Akopian dari Armenia. Khalifman tampil konsisten dan berhasil keluar sebagai juara dunia versi FIDE—sebuah pencapaian yang mengejutkan banyak pihak, karena ia bukan unggulan utama dalam turnamen tersebut.
Khalifman menandai era baru dengan kemenangannya, menunjukkan bahwa gelar juara dunia FIDE tidak lagi didominasi oleh satu nama besar. Format knockout membuat hasil menjadi lebih tak terduga, dan sejak saat itu, daftar finalis terus berganti.
Khalifman sendiri melaju ke final setelah mengalahkan Alexei Shirov, pecatur asal Latvia yang saat itu berlaga di bawah bendera Spanyol. Walau khalayak tidak menganggap Khalifman favorit, ia menegaskan lewat permainan solid dan strategis bahwa konsistensi mengalahkan reputasi.
Vladimir Kramnik

Di tempat berbeda pada tahun yang sama, Garry Kasparov akhirnya kehilangan mahkota juara dunia klasik setelah Vladimir Kramnik dari Rusia, juniornya, mengalahkannya.
Dalam pertandingan tahun 2000 yang berlangsung di London, Kramnik tampil luar biasa dengan strategi solid dan persiapan mendalam. Ia menang dua kali dan mencatatkan 13 hasil imbang, tanpa memberi Kasparov satu kemenangan pun—sebuah pencapaian yang sangat langka dalam sejarah kejuaraan dunia.
Dengan kemenangan ini, Kramnik menjadi juara dunia versi Classical World Chess Championship (PCA), dan membuka era baru di mana pendekatan posisional dan anti-teori kembali mendapat tempat di level tertinggi. Kramnik juga menjadi figur penting dalam upaya menyatukan kembali gelar juara dunia yang sempat terpecah antara FIDE dan PCA.
Ruslan Ponomariov

Pada tahun 2002, Ruslan Ponomariov dari Ukraina mencatat sejarah sebagai juara dunia termuda versi FIDE, setelah mengalahkan rekan senegaranya, Vasyl Ivanchuk, dalam final kejuaraan dunia yang menggunakan format knockout. Kemenangan ini menjadikan Ponomariov sebagai juara dunia pada usia 18 tahun—sebuah pencapaian luar biasa yang menempatkannya di jajaran elite catur global.
Pertandingan antara Ponomariov dan Ivanchuk menarik sorotan karena mempertemukan dua generasi pecatur Ukraina. Ivanchuk, pemain kreatif dan berpengalaman, berhadapan dengan Ponomariov yang tampil penuh dan ketenangan.
Dalam sistem turnamen yang dinamis dan penuh kejutan, Ponomariov menunjukkan bahwa usia muda bukan halangan untuk menaklukkan panggung tertinggi. Gelarnya menjadi simbol transisi generasi dan memperkuat posisi Ukraina sebagai salah satu kekuatan catur dunia.
Rustam Kasimdzhanov

Pada tahun 2004, giliran Rustam Kasimdzhanov dari Uzbekistan yang mencatatkan namanya sebagai juara dunia versi FIDE. Dalam final kejuaraan dunia yang kembali menggunakan format knockout, Kasimdzhanov berhasil mengalahkan Michael Adams dari Inggris—pecatur dengan gaya bermain solid dan endgame tajam. Kemenangan Kasimdzhanov menjadi kejutan besar, karena banyak yang memprediksi ia bukan unggulan utama dan tidak akan melaju sejauh itu.
Dengan gaya bermain yang tenang dan penuh perhitungan, Kasimdzhanov menunjukkan bahwa dalam sistem turnamen yang dinamis, konsistensi dan ketahanan mental bisa mengalahkan reputasi.
Khalifman melalui gelarnya memperkuat citra FIDE, membuka peluang lebih luas bagi pemain dari berbagai negara, dan menambah warna baru dalam daftar juara dunia, menggoyang dominasi Rusia dan Eropa Barat. Kemenangan ini juga menjadi tonggak penting bagi Uzbekistan dalam peta catur dunia.
Veselin Topalov

Pada tahun 2005, FIDE mengubah format kejuaraan dunia menjadi sistem double round-robin yang mempertemukan delapan pemain terbaik dunia. Dalam sistem baru ini, Veselin Topalov dari Bulgaria tampil dominan dan berhasil meraih gelar juara dunia versi FIDE.
Ia mengungguli Viswanathan Anand dan Peter Svidler yang masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga. Gaya bermain Topalov yang agresif dan penuh tekanan menjadikannya salah satu juara dunia paling eksplosif dalam era modern.
Sementara itu, Vladimir Kramnik mempertahankan gelar juara dunia klasiknya setelah mengalahkan Peter Leko dari Hungaria dalam pertandingan tahun 2004. Ketegangan antara dua versi gelar juara dunia—FIDE dan klasik—akhirnya mencapai titik temu pada tahun 2006.
Pertandingan reunifikasi Kramnik melawan Topalov menarik perhatian karena semua orang menantinya sebagai penentu juara dunia sejati.
Setelah pertandingan reguler berakhir imbang (3 kemenangan, 3 kekalahan, dan 6 hasil seri), Kramnik menang di babak tiebreak dengan skor 2–1 dan 1 hasil imbang. Kemenangan ini menjadikannya juara dunia tak terbantahkan, menyatukan kembali gelar yang sempat terpecah selama lebih dari satu dekade.
Viswanathan Anand

Tahun berikutnya, pada 2007, Viswanathan Anand dari India tampil sebagai juara dunia baru setelah memimpin klasemen akhir dalam turnamen double round-robin yang kembali mempertemukan delapan pemain terbaik dunia. Ia mengungguli Vladimir Kramnik dan Boris Gelfand dari Israel, menandai awal era baru dalam sejarah catur di mana Anand menjadi simbol kecerdasan strategis dan konsistensi tingkat tinggi.
Viswanathan Anand mempertahankan gelar juara dunia catur dengan konsistensi luar biasa selama lebih dari lima tahun. Pada tahun 2008, FIDE kembali ke format klasik dengan sistem turnamen kandidat untuk menentukan penantang.
Anand menghadapi Vladimir Kramnik dalam pertandingan best of 12 games dan menang dengan skor 3 kemenangan, 1 kekalahan, dan 7 hasil imbang. Kemenangan ini memperkuat posisinya sebagai juara dunia yang tak terbantahkan, sekaligus menunjukkan kemampuannya mengatasi tekanan dari generasi sebelumnya.
Dua tahun kemudian, pada 2010, Anand kembali mempertahankan gelarnya setelah mengalahkan Veselin Topalov dalam pertandingan yang berlangsung di Sofia, Bulgaria. Ia menang dengan skor 3–2 dan 7 hasil imbang, dalam duel yang penuh ketegangan dan strategi tingkat tinggi.
Pada tahun 2012, Anand menghadapi Boris Gelfand dari Israel dalam pertandingan yang sangat ketat. Setelah hasil reguler berakhir imbang (1 kemenangan, 1 kekalahan, dan 10 hasil imbang), Anand menang di babak tiebreak dengan 1 kemenangan dan 3 hasil imbang, mempertahankan gelarnya sekali lagi.
Namun pada tahun 2013, Anand menghadapi tantangan dari Magnus Carlsen, pecatur muda asal Norwegia yang telah lama mengganggu dominasi Anand di peringkat dunia.
Sejak 2010, Carlsen mempertahankan peringkat FIDE tertinggi sambil memadukan intuisi, stamina, dan kalkulasi dalam gaya bermain universal. Pertemuan mereka menjadi titik transisi penting dalam sejarah catur modern, mempertemukan juara bertahan yang penuh pengalaman dengan generasi baru yang haus perubahan.
Magnus Carlsen

Magnus Carlsen resmi menjadi juara dunia catur pada tahun 2013 setelah mengalahkan Viswanathan Anand di Chennai, India—kota asal sang juara bertahan. Meski bertanding di “kandang lawan,” Carlsen tampil dominan dengan 3 kemenangan dan 7 hasil imbang. Ia tak memberi Anand satu kemenangan pun.
Setahun kemudian, Anand kembali menantang Carlsen dalam pertandingan ulang. Hasilnya nyaris serupa: Carlsen menang 3 kali, Anand hanya sekali, dan 7 partai berakhir imbang.
Secara keseluruhan, Carlsen mempertahankan gelarnya sebanyak lima kali, menjadikannya salah satu juara dunia paling konsisten dalam sejarah modern.
Ia mengalahkan Sergey Karjakin (2016), Fabiano Caruana (2018), dan Ian Nepomniachtchi (2021).
Gaya bermain Carlsen yang fleksibel, penuh intuisi, dan sangat kuat di endgame menjadikannya figur dominan selama lebih dari satu dekade. Namun, setelah Ian Nepomniachtchi memenangkan Turnamen Kandidat 2022 dan Ding Liren menjadi runner-up, Carlsen mengambil keputusan mengejutkan
Ia memilih mundur dan melepaskan gelar juara dunia. Banyak yang menilai keputusan ini sebagai bentuk kekecewaan terhadap FIDE, yang menolak usulan Carlsen untuk mengubah format pertandingan.
Jika pertandingan klasik berakhir imbang, Carlsen ingin langsung melanjutkannya dengan rapid dan blitz. Ini untuk menghindari hasil seri panjang yang membosankan bagi penonton maupun pemain.
Keputusan Magnus Carlsen untuk mundur dari perebutan gelar juara dunia membuka jalan bagi duel baru. Ian Nepomniachtchi dari Rusia dan Ding Liren dari Tiongkok.
Pertandingan perebutan gelar juara dunia berlangsung pada April 2023 di Astana, Kazakhstan, dan menjadi momen penting dalam sejarah catur modern. Untuk pertama kalinya sejak 2013, Carlsen tidak ikut serta dalam perebutan gelar juara dunia.
Ian Nepo tampil agresif dan sempat memimpin klasemen pertandingan, namun Ding Liren menunjukkan ketenangan luar biasa dalam momen-momen krusial. Setelah 14 game klasik berakhir imbang dengan skor 7–7 (masing-masing 3 kemenangan dan 8 hasil seri). Pertandingan kemudian berlanjut ke babak tiebreak rapid.
Ding Liren

Ding Liren mencetak sejarah: ia menang 2–1 dan menjadi juara dunia catur pertama dari Tiongkok.
Pecatur asal Tiongkok itu mencatat sejarah pada April 2023 dengan menjadi juara dunia catur menggantikan Magnus Carlsen.
Gukesh Dommaraju

Gukesh Dommaraju mencatat sejarah pada Desember 2024 dengan menjadi juara dunia catur termuda kedua sepanjang masa. Ia mengalahkan Ding Liren dalam pertandingan klasik yang berlangsung di Singapura. Skor akhir 7.5–6.5 menunjukkan betapa ketatnya duel antara dua generasi catur yang sangat berbeda.
Gukesh saat itu berusia 18 tahun. Ia tiga bulan lebih tua dari Ruslan Ponomariov saat meraih gelar pada tahun 2002. Gukesh menjadi juara dunia ke-18 dalam sejarah catur, sekaligus membawa kembali gelar tersebut ke India. Viswanathan Anand memegang status juara dunia terakhir pada 2013.
Pertandingan berlangsung selama 14 babak klasik, dengan masing-masing pemain mencatatkan 3 kemenangan dan 8 hasil imbang. Gukesh memastikan gelar setelah menang di game ke-14, memanfaatkan blunder Ding dalam endgame teknis.
Kemenangan ini bukan hanya soal skor. Ini simbol dari mimpi panjang yang ia tanam sejak kecil. Menjadi juara dunia dan menginspirasi generasi baru pecatur India.
Paul Morphy: Legenda Catur Abad ke-19 yang Pensiun Dini
