Elektabilitas Prabowo Ambles ke 9,8%, KDM-Anies Menyalip

Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto merosot  tajam hingga tersisa 9,8 persen.

Peta politik nasional menuju Pemilihan Presiden 2029 bergerak liar berdasarkan hasil riset terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Rilis data nasional pada Sabtu, 17 Oktober 2026 menunjukkan runtuhnya dominasi figur petahana.

Penurunan drastis elektabilitas Presiden  Prabowo Subianto yang tersisa 9,8 persen membuka ruang lebar bagi tokoh-tokoh alternatif. Panggung persaingan kini tidak lagi berpusat pada satu nama.

Sejumlah figur beken seperti Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka langsung menyodok ke papan atas untuk mengunci basis pemilih baru di Indonesia.

Melalui simulasi semi-terbuka dengan menyodorkan 24 nama kandidat potensial kepada responden, mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sukses meroket di posisi pertama. Ia memimpin bursa kepemimpinan nasional dengan elektabilitas sebesar 35,5 persen.

Kejutan besar berikutnya datang dari eks Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, yang merangkak naik ke posisi kedua dengan mengamankan dukungan sebesar 10,3 persen.

Raihan angka Anies ini resmi melampaui tingkat keterpilihan Presiden Prabowo Subianto yang terlempar ke urutan ketiga dengan raihan 9,8 persen.

Sementara itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membayangi sangat ketat di peringkat keempat dengan mengunci elektabilitas sebesar 8,4 persen.

Jika peneliti menarik data komparatif ke belakang, posisi antara petahana dan para penantang mengalami pembalikan arah kosmik yang sangat kontras dalam setahun terakhir. Pada November 2025, Presiden Prabowo sebenarnya masih berdiri kokoh di puncak elektabilitas nasional dengan angka 34,9 persen. Kala itu, Dedi Mulyadi baru mengumpulkan 19,7 persen dukungan pemilih.

Ketahanan elektoral inkumben mulai goyah saat memasuki periode Februari-Maret 2026 karena turun tipis ke level 33,3 persen. Namun, badai penurunan paling destruktif terjadi setelah itu.

Elektabilitas Prabowo Subianto anjlok menjadi 14,5 persen pada Juli 2026 sebelum akhirnya terkapar di bawah angka sepuluh persen pada Oktober 2026.

Sebaliknya, grafik dukungan Dedi Mulyadi justru terus merangkak naik secara konsisten hingga menyentuh angka 35,5 persen.

SMRC juga melakukan pengujian taktis di papan tengah dan bawah untuk melihat sebaran suara tokoh-tokoh lain.

Hasilnya, pergerakan angka elektabilitas figur selain empat besar cenderung stagnan dan terkunci di bawah level psikologis enam persen.

Mantan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengumpulkan 5 persen dukungan pada simulasi banyak nama tersebut. Angka keterpilihan Purbaya yang baru saja melepas jabatan kabinet pada September 2026 ini setara dengan perolehan suara mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang juga tertahan di angka 5 persen.

Sementara itu, sisa nama-nama beken lainnya seperti Mahfud MD, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), hingga Puan Maharani harus puas mengoleksi tingkat keterpilihan di bawah batas enam persen. Adapun kelompok pemilih yang menyatakan belum menentukan pilihan (undecided voters) masih tersisa sebanyak 13,9 persen.

Data valid dari riset nasional periode 1–10 Oktober 2026 ini mengonfirmasi adanya fenomena migrasi suara parpol pendukung pemerintah secara masif ke tokoh-tokoh penantang.

Resistensi pemilih terhadap presiden inkumben terlihat sangat nyata di dalam internal partai koalisi. Hanya 20 persen pemilih Partai Gerindra yang menyatakan setia mendukung kembali Prabowo.

Sisanya, 74 persen massa Gerindra memilih menyeberang mendukung figur capres lain seperti Dedi Mulyadi atau Gibran. Pola pembangkangan pemilih ini menular ke simpatisan Golkar. Mereka hanya menyisakan 17 persen dukungan untuk petahana. Selanjutnya, PAN menyusul dengan 8 persen, sedangkan PKB tersisa 4 persen saja.

Rangkaian fakta keras ini menegaskan satu hal penting. Ketidakpuasan publik atas eksekusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pemicu utama. Selain itu, program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) turut meruntuhkan elektabilitas Prabowo Subianto.

Tragedi Karhutla 2026: Rakyat Sekarat, Pejabat Obral Dagelan

Tinggalkan komentar