Islam Tua Sangihe, Jejak Masade di Kepulauan Perbatasan

Islam Tua Sangihe merupakan sebutan eksternal bagi komunitas penganut ajaran Masade, sebuah sistem kepercayaan lokal yang tumbuh unik di wilayah Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.

Publik luar sering kali mengaitkan entitas spiritual ini dengan ajaran Islam arus utama karena kemiripan nomenklatur keagamaan yang digunakan para penganutnya.

Lokasi persebaran utama komunitas adat ini berpusat di Kampung Lenganeng, Kecamatan Tabukan Utara. Keberadaan mereka menjadi salah satu bukti kekayaan khazanah budaya dan kepercayaan lokal yang berkembang di wilayah perbatasan laut antara Indonesia dan Filipina sejak berabad-abad silam.

Berbagai penelitian dan catatan lapangan menunjukkan bahwa ajaran ini berkembang sebagai ekspresi spiritualitas dan identitas budaya lokal masyarakat Sangihe.

Sosok Imam Masade menempati posisi penting dalam sejarah dan tradisi lisan komunitas Masade. • Kampung Lenganeng yang terletak di Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe, bertindak sebagai pusat komando adat, tempat berdirinya Mesjid utama penganut Islam Tua, dan tempat tinggal sang Imam besar.

Ia mulai menyebarkan ajarannya ketika kerajaan-kerajaan lokal berkembang di Kepulauan Sangihe. Sejumlah sumber lokal juga mengaitkan perkembangan awal ajaran ini dengan era kekuasaan Raja Syam Syach Alam atau Paduka Raja Samangsialang.

Komunitas menyebut Imam Masade pernah melakukan perjalanan spiritual ke Filipina Selatan sebelum kembali ke Sangihe dan meneruskan ajarannya kepada para murid.

Generasi berikutnya kemudian melanjutkan kepemimpinan melalui tokoh-tokoh seperti Penanging, Mahadure, Makung, Handung, dan Biangkati.

Keterbatasan sumber tertulis membuat para peneliti masih memperdebatkan sejumlah detail kronologi, silsilah dan biografinya.

Ajaran Masade berpusat pada upaya memurnikan jiwa dan mengendalikan hawa nafsu. Para pengikutnya menjaga perilaku, menjauhi perbuatan tercela, serta memegang teguh nilai-nilai leluhur yang mereka wariskan dari generasi ke generasi.

Ciri paling mencolok tampak pada Mesjid, sebutan mereka untuk rumah ibadah. Bentuk bangunannya tidak mengikuti arsitektur masjid pada umumnya, bahkan sekilas menyerupai gereja. Saat waktu ibadah tiba, pengurus Mesjid membunyikan lonceng besi besar untuk mengumpulkan jemaah.

Tata ibadah Masade memperlihatkan sejumlah ciri yang membedakannya dari praktik keagamaan lain di Sangihe. Jemaah melaksanakan ibadah utama setiap hari Jumat. Mereka memulai rangkaian ritual sekitar pukul sembilan pagi. Pengurus Mesjid membunyikan lonceng besi sebagai penanda waktu ibadah dan ajakan berkumpul bagi umat.

Saat mengikuti ibadah, sebagian jemaah berdiri, sedangkan sebagian lainnya duduk membentuk lingkaran di ruang utama Mesjid. Mereka melantunkan doa dalam bahasa Sangihe kuno. Pada sejumlah bagian ritual, jemaah juga mengucapkan lafal bismillah dan takbir Allahu Akbar.

Tradisi ini menunjukkan penggunaan sejumlah istilah dan simbol yang dikenal dalam khazanah Islam, meskipun praktik keagamaan Masade berkembang dalam coraknya sendiri

Dalam ibadah, jemaah perempuan mengenakan jilbab, sedangkan jemaah laki-laki memakai sarung sebagai bagian dari tata busana yang berlaku dalam komunitas.

Selain ibadah mingguan, para penghayat juga menjalankan sejumlah ritual tahunan. Salah satunya berupa puasa selama sepuluh hari menjelang Idul Fitri. Mereka kemudian menggelar ritual adat Diko u Solo sebagai puncak perayaan spiritual komunitas.

Pada malam ritual tersebut, setiap kepala keluarga menyalakan lilin atau obor minyak lalu menempatkannya pada wadah kayu yang menyerupai pohon. Setelah itu, masyarakat melanjutkan rangkaian perayaan dengan Hari Raya Ketupat.

Komunitas Masade juga mengenal tradisi ziarah ke Pulau Enggohe.

Para penghayat Masade memandang Pulau Enggohe sebagai salah satu lokasi penting dalam sejarah dan tradisi spiritual mereka. Sebagian peziarah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan pengendalian diri.

Sejumlah akademisi memandang Masade sebagai hasil perjumpaan antara budaya lokal Sangihe dan pengaruh keagamaan yang masuk melalui jalur pelayaran serta perdagangan di kawasan Sulawesi Utara, Maluku, dan Filipina Selatan.

Karena itu, banyak peneliti menempatkan Masade sebagai kepercayaan lokal yang berkembang dalam konteks budaya Sangihe. Tradisi ini juga memuat sejumlah simbol, istilah, dan praktik yang menunjukkan perjumpaan antara budaya lokal Sangihe dan pengaruh keislaman.

Komunitas Masade tersebar di Kampung Lenganeng, Kampung Kalekube, dan Pulau Enggohe di Kecamatan Tabukan Utara. Sebelumnya, komunitas ini juga hadir di Kampung Pindang, Kecamatan Manganitu Selatan, meski kini sudah lagi ditemukan. Sejumlah penghayat Masade juga bermukim di Kota Bitung.

Pada 2007, perkiraan jumlah pengikut Masade mencapai sekitar tiga ribu jiwa. Hingga kini belum tersedia data mutakhir yang dapat menggambarkan perkembangan jumlah pengikutnya secara pasti.

Saat ini, komunitas Masade bernaung dalam wadah penghayat kepercayaan sesuai ketentuan administrasi negara. Langkah tersebut memberi ruang bagi para penghayat untuk mempertahankan identitas budaya dan tradisi spiritual yang mereka warisi secara turun-temurun.

Kendati demikian, keberadaan Masade tetap menjadi salah satu warisan budaya di kawasan perbatasan utara Indonesia.

Arus globalisasi tidak menghapus jejak budaya Masade atau Islam Tua Sangihe. Komunitas ini terus menjaga tradisi, merawat ritual, dan meneruskan nilai-nilai leluhur kepada generasi berikutnya.

Waruga, Kubur Batu Kuno Suku Minahasa Peradaban Megalitik

Tinggalkan komentar