Lionel Messi Pensiun, Terima Kasih GOAT

Bagi generasi X akhir dan para generasi Y, kebanggaan besar bisa menyaksikan tiga atlet terbaik dalam cabangnya, dari masa jaya hingga pensiun.
Kita pernah menyaksikan Michael Jordan dalam basket, sampai dia memutuskan pensiun tahun 2003. Selanjutnya ada Valentino Rossi di MotoGP yang mengakhiri kariernya di dunia balap tahun 2021.
Yang terakhir, kita juga harus menahan haru ketika anak ajaib dari Rosario resmi mundur dari timnas Argentina karena termakan usia. Semua berlalu begitu cepat.
Akhirnya, waktu itu tiba juga. Greatest of All Time (GOAT), pemain sepak bola terbaik sepanjang sejarah, Lionel Andres Messi, mengumumkan purnabakti di timnas Argentina.

Sepak bola dan penikmatnya benar-benar berutang kepada Messi, yang sudah menghibur dan membuat olahraga ini menjadi sebuah tontonan indah selama dua dekade.

Leo—panggilannya—melakoni penampilan terakhirnya bersama La Albiceleste (putih-biru langit), dalam laga persahabatan melawan Benin di Stadion Monumental, Buenos Aires, pada 6/10/2026.
Tim Tango menang 3-0, dan Leo berkontribusi atas semua gol lewat dua assist dan 1 gol. Tak kurang 85.000 suporter menjadi saksi rekor abadi tercipta. Pengabdian 21 tahun sejak debutnya pada 17 Agustus 2005—yang berujung kartu merah saat bersua dengan timnas Hungaria—resmi berakhir.
Total 208 caps, 126 gol, dan 70 assist menjadikannya berada di posisi teratas dan mustahil tergantikan di setiap catatan. Namun, yang menjadi tak terlupakan adalah gelar utama yang dia persembahkan: Juara Piala Dunia 2022, Copa América (2021, 2024), dan Finalissima 2022.
Terlepas dari semua catatan rekor dan prestasi, ada hal lain yang begitu menginspirasi. Bagi semua publik sepak bola, Lionel Messi mengajarkan arti bangkit dari kegagalan, berjuang bersama dengan cinta.
Memulai langkahnya di Piala Dunia pada tahun 2006, Lionel Messi gagal di dua Piala Dunia pertamanya, termasuk saat dilatih legenda Argentina yang lain, Diego Armando Maradona, tahun 2010.
Hingga tiba tahun 2014, Messi berhasil membawa Argentina ke partai final saat perhelatan di Brasil.
Sayang, gol tunggal Mario Götze membuat Messi bersama jutaan rakyat Argentina terisak. Sebagian bahkan marah, mengapa tak ada piala untuk Argentina. Sebaliknya untuk klubnya saat itu, Barcelona, Messi memberikan puluhan piala.
Setahun berikutnya, kesempatan mempersembahkan trofi untuk Argentina kembali datang ketika negaranya tembus laga puncak melawan Chile. Apa daya, Lionel Messi gagal lagi ketika Argentina takluk lewat drama adu penalti.

Takdir seakan berpihak kepada Messi tahun 2016, saat berlangsung Copa América Centenario 2016.

Padahal Copa América seharusnya diadakan dua tahun sekali. Argentina dan Chile kembali bertemu di laga pamungkas. Adu tos-tosan lewat titik 11 meter kembali berulang.
Hasilnya? Tak ada balas dendam, Messi lagi-lagi jadi pecundang. Imbasnya, terlanjur frustrasi dan malu, dia akhirnya menyatakan undur diri dari timnas Argentina pada Juni 2016.
Sebagian rakyat Argentina sedih dan marah. Messi ternyata tak bisa diandalkan. Meski di lubuk hati paling dalam, mereka masih berharap Messi bisa kembali. Lainnya hanya bisa membentang spanduk “No te vayas, Leo” (Jangan pergi, Leo).
Keputusan tersebut membuat tiga orang terpenting di sepak bola Argentina harus turun tangan meminta Messi meralat keputusannya. Presiden Argentina Mauricio Macri menelepon khusus, pelatih Argentina Edgardo Bauza langsung terbang ke Barcelona, sementara legenda sepak bola Diego Armando Maradona memohon publik berhenti mengkritik dan menyalahkan Messi.
Dua bulan usai kata pensiun terlontar, Leo akhirnya kembali merumput bersama jersei kebanggaannya, tepatnya 1 September 2016 saat laga Kualifikasi Piala Dunia 2018 melawan Uruguay.
Kegagalan kembali berpihak kepada Messi di Rusia 2018. Prancis terlalu superior, hingga akhirnya menjadi kampiun. Namun Messi belum menyerah, baginya ada satu kesempatan lagi sebelum dia benar-benar menyudahi semuanya.
Dan, publik sepak bola sudah mengetahui ending-nya…

Tinggalkan komentar