Siapa saja grandmaster catur asal Indonesia? pertanyaan itu selalu meluncur dari bibir para pecinta catur dari masa ke masa. Lantas, siapa saja para pecatur asal Indonesia yang berhasil meraih gelar tertinggi dalam olahraga 64 petak ini?
Sejauh ini, Indonesia sudah memiliki 9 Grandmaster catur. Mereka adalah Herman Suradiradja, Utut Adianto, Ardiansyah, Edhi Handoko, Ruben Gunawan, Cerdas Barus, Susanto Megaranto, Novendra Priasmoro, dan Sean Winshand Cuhendi.
Berikut ulasan profil lengkap 9 Grandmaster Catur Indonesia
Menyandang gelar Grandmaster (GM) adalah puncak karier seorang pecatur. Gelar ini diberikan oleh FIDE setelah seorang pemain memenuhi tiga norma GM di turnamen internasional dan menembus rating 2500. Indonesia, negara dengan tradisi catur yang panjang, kini memiliki 9 Grandmaster resmi. Mereka adalah pionir, ikon, sekaligus inspirasi bagi generasi baru. Mari kita ulas profil masing-masing.
1. Herman Suradiradja (1947–2016)
Herman Suradiradja adalah Grandmaster pertama Indonesia, meraih gelar pada 1978. Lahir di Sukabumi, Jawa Barat, ia menimba ilmu catur di Bulgaria dan menjadi juara nasional 1975. Herman tampil di Olimpiade Catur empat kali (1966, 1972, 1978, 1980) dengan catatan 10 kemenangan, 20 remis, dan 10 kekalahan. Meski rating tertingginya 2380, pencapaiannya monumental: membuka jalan bagi pecatur Indonesia menembus panggung dunia.
2. Utut Adianto Wahyuwidayat
Utut Adianto adalah ikon catur Indonesia. Meraih gelar GM pada Olimpiade Dubai 1986, ia menjadi GM termuda Asia Tenggara saat itu (21 tahun). Rating puncaknya 2615 (1997), menempatkannya di peringkat 39 dunia. Utut tampil di Olimpiade Catur sembilan kali (1982–2016) dengan rekor 45 menang, 35 remis, 22 kalah. Selain pecatur, ia juga aktif sebagai politisi dan tokoh publik. Utut adalah simbol konsistensi dan dedikasi.
3. Ardiansyah (1951–2017)
Dikenal sebagai Haji Ardiansyah atau “Abah”, ia adalah GM ketiga Indonesia (1986). Lahir di Banjarmasin, ia meraih gelar IM pada 1969 dan GM pada 1986. Ardiansyah tampil di Olimpiade Catur sebanyak 11 kali (1970–1996), terbanyak di antara pecatur Indonesia. Catatannya: 54 menang, 44 remis, 46 kalah. Ia pernah mengalahkan Vishwanathan Anand pada 1986, yang kelak menjadi juara dunia. Ardiansyah adalah legenda yang dihormati.
4. Edhi Handoko (1960–2009)
Edhi Handoko adalah GM keempat Indonesia (1994). Lahir di Solo, ia meraih IM pada 1982 dan GM setelah menjuarai Sirkuit Asia. Ia empat kali juara nasional (1978, 1979, 1984, 1991). Tampil di Olimpiade Catur delapan kali (1980–2000) dengan rekor 34 menang, 38 remis, 22 kalah. Edhi dikenal sebagai pecatur solid dan penuh perhitungan, serta menjadi inspirasi bagi generasi muda.
5. Ruben Gunawan (1968–2005)
Ruben Gunawan adalah GM kelima Indonesia (1997). Lahir di Jakarta, ia tampil di Olimpiade Catur 2000 dan 2004. Catatannya: 4 menang, beberapa remis, 7 kalah. Sayangnya, Ruben meninggal muda akibat sakit radang paru saat Olimpiade Calvia 2004. Meski kariernya singkat, Ruben dikenang sebagai pecatur berbakat dengan gaya agresif.
6. Cerdas Barus
Cerdas Barus adalah GM keenam Indonesia (2002). Lahir di Karo, Sumatera Utara, ia adalah pecatur tuna rungu yang membuktikan keterbatasan bukan halangan. Ia tampil di Olimpiade Catur tujuh kali (1984–2002) dengan rekor 25 menang, 33 remis, 11 kalah. Prestasi puncaknya adalah medali emas perseorangan papan tiga di Olimpiade Bled 2002. Cerdas adalah simbol ketekunan dan inspirasi.
7. Susanto Megaranto
Susanto Megaranto adalah GM ketujuh Indonesia (2004), sekaligus GM termuda Indonesia saat itu (17 tahun). Lahir di Indramayu, ia adalah murid Utut Adianto. Susanto empat kali juara nasional (2006, 2007, 2010, 2013). Rating puncaknya 2569. Ia tampil di Olimpiade Catur sejak 2002 hingga 2022, menjadi andalan Indonesia. Susanto adalah wajah modern catur Indonesia.
8. Novendra Priasmoro
Novendra Priasmoro adalah GM kedelapan Indonesia (2020). Lahir di Jakarta, ia meraih gelar setelah menjuarai Liberec Open di Ceko. Rating puncaknya 2502. Novendra adalah generasi baru yang membawa harapan besar. Ia dikenal dengan gaya taktis dan kombinasi tajam, serta menjadi salah satu pecatur muda paling menjanjikan.
9. Sean Winshand Cuhendi
Sean Winshand Cuhendi adalah Grandmaster kesembilan Indonesia (2025). Ia menembus rating 2500 setelah menjuarai Nusantara GM Tournament 2025 di Bandung. Sean sebelumnya sudah mengantongi tiga norma GM (Jakarta 2015, Slovakia 2017, Serbia 2017). Sean adalah simbol generasi baru yang siap membawa Indonesia ke level lebih tinggi.
Dengan pencapaian Sean, Indonesia sudah memiliki 9 Grandmaster resmi. Namun, kini tersisa 5 orang. Faktanya, Utut Adianto dan Cerdas Barus kini jarang aktif di percaturan nasional. Praktis Indonesia hanya berharap kepada Susanto Megaranto yang juga semakin senior, Novendra Priasmoro dan Sean Cuhendi.
Dari Herman Suradiradja sebagai pionir hingga Sean sebagai generasi terbaru, perjalanan ini menunjukkan konsistensi, dedikasi, dan semangat juang. Meski jumlah GM Indonesia masih tertinggal dibanding negara besar seperti Rusia atau India, keberadaan sembilan GM ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu bersaing di panggung dunia.
Pecatur Dunia yang Pernah Mencapai Rating 2800
