Bridge bukan sekadar olahraga otak. Di PON XXI Aceh–Sumut 2024, cabang ini menjadi ajang pembuktian strategi, konsistensi, dan kedalaman tim. Bertempat di Hotel Grand Renggali, Takengon, Aceh Tengah, pertandingan berlangsung dari 9 hingga 18 September 2024, mempertandingkan lima nomor resmi: pasangan putra, pasangan putri, beregu putra, beregu putri, dan beregu campuran.
DKI Jakarta tampil sebagai kontingen paling dominan, namun kejutan datang dari Sulawesi Utara yang mencuri emas di nomor beregu putra. Sementara itu, tuan rumah Aceh dan provinsi-provinsi lain turut mencatatkan prestasi penting.
Berikut daftar lengkap peraih medali PON Aceh dan susunan tim masing-masing nomor.
Nomor: Beregu Putra
– Emas – Sulawesi Utara
Anggota tim:
– Bill Mondigir
– Tommy Rogi
– Cliff Tangkuman
– Mario Mambu
– Denny Palar
– Ch. Nurhamiddin
Coach: Freddy Manoppo
– Perak – DKI Jakarta
Anggota tim:
– Taufik Gautama Asbi
– Leslie Gontha
– Franky Steven
– Jemmy B. Bojoh
– Robert Parasian
– Julius A. George
– Perunggu – Aceh
Nomor: Beregu Putri
– Emas – DKI Jakarta
Anggota tim:
– Conny Eufke Sumampouw
– Rury Andhani
– Effi Wibowo
– Kristina Wahyu Murniati
– Suci Amita Dewi
– Syarifah Nina Tirtaayu
– Perak – Jawa Timur
Anggota tim:
– Azaria Elvinarosa
– Diana Aulia Rahma
– Elsya Saktya Ningtyas
– Nur Afifatur Rohinun
– Nabila Nurul Izzah
– Nisrina Azzahra
– Perunggu – Jawa Tengah dan Aceh
Nomor: Beregu Campuran
– Emas – DKI Jakarta
Anggota tim:
– Taufik Gautama Asbi
– Leslie Gontha
– Rury Andhani
– Conny Eufke Sumampouw
– Kristina Wahyu Murniati
– Julius A. George
– Perak – Jawa Tengah
Anggota tim:
– Daffa Indika
– Fathiyya Erista Maharani
– Rizky Pratama
– Nadya Kusuma Wardani
– Yusuf Arifin
– Larasati Putri
– Perunggu – Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan
Nomor: Pasangan Putra
– Emas – Taufik Gautama Asbi & Leslie Gontha (DKI Jakarta)
– Perak – Ronny Eltanto & Youberth Jefry Sumarauw (Jawa Timur)
– Perunggu – Ferry Nando Surya Tjandra & Santje Panelewen (Jawa Timur)
-Stefanus Endras Wijayanto & Mukhiban Dharma Bakti (Jawa Timur)
Nomor: Pasangan Putri
– Emas – Rury Andhani & Conny Eufke Sumampouw (DKI Jakarta)
– Perak – Lusje Olha Bojoh & Julita G.J. Tueje (DKI Jakarta)
– Perunggu – Kristina Wahyu Murniati & Suci Amita Dewi (DKI Jakarta)
– Dewita Sonya Tarabunga & Lani (Aceh)
Bridge di PON XXI bukan sekadar pelengkap. Atmosfer kompetisi sangat terasa, dengan strategi bidding yang tajam, pertahanan yang disiplin, dan chemistry antar pemain yang diuji di setiap sesi. DKI Jakarta tampil sebagai kontingen paling dominan, namun kejutan dari Sulawesi Utara dan Aceh menunjukkan bahwa kekuatan bridge Indonesia semakin merata.
PON XXI Aceh–Sumut 2024 menjadi penanda bahwa bridge bukan lagi olahraga minor. Dengan distribusi medali yang luas, munculnya nama-nama baru, dan kualitas permainan yang meningkat, cabang ini layak mendapat sorotan lebih besar.
Bagi DKI Jakarta, ini adalah bukti konsistensi dan kedalaman skuad. untuk Sulawesi Utara, ini adalah pembuktian bahwa daerah bisa bersaing di level nasional. Sementara bagi Aceh sebagai tuan rumah, tiga medali perunggu adalah hasil kerja keras dan kebanggaan lokal.
Kabar Kurang Enak
Meski PON XXI Aceh–Sumut 2024 menjadi panggung gemilang bagi bridge Indonesia, kabar pahit menghampiri: bridge tidak akan dipertandingkan di PON XXII tahun 2028 yang akan digelar di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Keputusan ini diambil dalam Rakernas KONI 2024, yang menetapkan hanya 40 cabang olahraga resmi untuk PON mendatang.
Bridge, bersama catur dan angkat berat, termasuk dalam daftar cabor yang tidak diakomodasi. Hal ini memicu protes dari berbagai pengurus daerah, termasuk Sulawesi Utara dan DKI Jakarta, yang selama ini menjadi tulang punggung prestasi bridge nasional. Mereka menilai keputusan tersebut tidak mencerminkan semangat pembinaan jangka panjang dan justru mematikan regenerasi atlet di daerah.
Absennya bridge dari PON XXII bukan sekadar kehilangan satu nomor pertandingan. Ini adalah sinyal bahwa ekosistem bridge Indonesia sedang diuji. Tanpa panggung nasional, pembinaan akan kehilangan arah, sponsor akan ragu, dan atlet muda kehilangan motivasi.
Padahal, PON XXI baru saja menunjukkan bahwa bridge mampu menyajikan kompetisi berkualitas tinggi, distribusi medali yang merata, dan munculnya nama-nama baru dari luar Jawa. Jika tidak ada revisi kebijakan, maka PON XXI bisa jadi menjadi edisi terakhir bridge tampil di panggung olahraga terbesar Indonesia.
Sebuah ironi, ketika kualitas sedang naik, panggung justru ditutup. Bridge Indonesia layak diperjuangkan, bukan dihapuskan.
Kabar Terbaru: Bridge akan dipertandingkan di PON 2028