Meski vonis jatuh, tidak ada bukti teknis yang membuktikan Manoppo bersaudara menggunakan sinyal ilegal. Tidak ada rekaman, tidak ada saksi, tidak ada pengakuan.
===
Sulawesi Utara bukan hanya melahirkan pemain bridge tangguh, tapi juga kisah paling kontroversial dalam sejarah olahraga bridge Indonesia. Di pusatnya berdiri dua nama: Maurilius Freddy “Utu” Manoppo dan Freddy Eddy Manoppo.
Pasangan bersaudara ini pernah menjadi simbol kejayaan Indonesia di Asia, lalu tenggelam dalam tudingan yang tak pernah terbukti. Tapi sejarah tak berhenti di sana. Mereka bangkit, bermain lagi, dan tetap juara.
Era Keemasan: Dominasi dari Manado ke Asia
Di era 60-an hingga awal 70-an, Utu dan Eddy Manoppo adalah pasangan yang tak tergoyahkan di turnamen lokal Sulawesi Utara. Bersama Henky Lasut dan Max Agouw, mereka membentuk formasi pat-kawan yang nyaris mustahil dikalahkan. Gaya main mereka tenang, efisien, dan mematikan. Dari bidding hingga lead, mereka tahu kapan harus menyerang dan kapan menunggu.
Puncaknya terjadi saat mereka mewakili Indonesia di Turnamen Asia Pasifik—Singapura 1972 dan Manila 1974. Di sana, mereka bukan hanya menang, tapi mencetak skor yang dianggap luar biasa. Prestasi itu membawa mereka ke Bermuda Bowl 1975, ajang paling bergengsi di dunia bridge.
Tirai yang Mengubah Segalanya
Namun, performa mereka di Bermuda Bowl berbeda drastis. Di Manila, meja pertandingan terbuka. Di Bermuda, sistem tirai pembatas mulai digunakan. Performa Utu dan Eddy menurun. Federasi Bridge Internasional mulai menyelidiki.
Mereka membandingkan 77 distribusi di Manila dengan permainan di Bermuda. Hasilnya: muncul istilah “radar gelap”—dugaan bahwa mereka menggunakan sinyal non-verbal untuk berkomunikasi.
Tudingan itu mengguncang. Meski tak pernah dibuktikan secara teknis, sidang FEBFC di New Delhi 1978 memutuskan: Manoppo bersaudara dilarang tampil selama lima tahun, dan tidak boleh bermain semeja.
Pernyataan Eddy Manoppo: “Kami Masih Bermain dan Tetap Juara”
Dalam wawancara eksklusif dengan gambid.id, Eddy Manoppo menegaskan bahwa tudingan itu tidak benar.
“Tuduhan tu tidak benar dan tidak berdasar. Setelah itu, saya dan kakak saya masih bermain dan tetap juara di beberapa turnamen tanah air saat meja menggunakan tirai,” kata Eddy Manoppo, Jumat (31/10/2025).
Pernyataan ini bukan sekadar pembelaan. Ini adalah penegasan bahwa kualitas permainan mereka tidak bergantung pada trik atau sinyal. Mereka tetap aktif, tetap kompetitif, dan tetap menang—meski tidak lagi berpasangan.
Bangkit Tanpa Utu dan Eddy
Setelah vonis jatuh, PB GABSI harus bergerak cepat. Tahun 1979, Indonesia mengirim tim baru ke Far East Asia Championship. Tanpa Manoppo bersaudara, seleksi nasional melibatkan nama-nama seperti FR Waluyan, Denny Sacul, Yasin Widjaya, Munawar Sawiruddin, Henky Lasut, Max Agouw, dan lainnya.
Mereka masuk pembinaan selama sembilan bulan, menyusun strategi bidding dan pertahanan.
Timnas akhirnya terbentuk: Freddy Waluyan–Denny Sacul, Henky Lasut–Max Agouw, dan Yasin Wijaya–Munawar Sawiruddin.
Di bawah koordinasi Amran Zamzami dan Jack Rimbuan, mereka berhasil membawa pulang Piala Far East Asia. Tahun berikutnya, Indonesia menjuarai Invitational World Championship di Amsterdam dan finis keempat di WBF Olympiad VI.
Henky dan Eddy: Dari Saudara Ipar ke Juara Dunia
Waktu berjalan. Utu memilih jalur sunyi, sesekali muncul sebagai inspektur pertandingan lokal. Tapi Eddy Manoppo kembali ke panggung utama, dan yang mengejutkan: ia berpasangan dengan Henky Lasut, yang kelak menjadi iparnya setelah Henky menikahi Corry Manoppo, kakak Eddy.
Pasangan ini menjadi kekuatan baru. Mereka menjuarai berbagai turnamen nasional dan internasional hingga era 2000-an. Puncaknya terjadi saat mereka menjuarai The 14th Redbull World Bridge Series di Sanya, Tiongkok (2014).
Keduanya berhak menyandang gelar Grand Master Senior —pengakuan tertinggi dari federasi internasional, dan satu-satunya di Asia Pasifik.
Tudingan yang Tak Pernah Terbukti
Meski vonis telah jatuh, tidak pernah ada bukti teknis yang membuktikan Manoppo bersaudara menggunakan sinyal ilegal. Tidak ada rekaman, tidak ada saksi, tidak ada pengakuan. Hanya ada kecurigaan dan laporan lawan. Bahkan teori “telepati” sempat mencuat, mencerminkan betapa kuatnya chemistry mereka.
Dalam sejarah bridge dunia, tuduhan seperti ini bukan hal baru. Belladonna–Garozzo dari Italia, dan Fantoni–Nunes dari Monako, juga pernah tersandung isu serupa.
Dan fakta bahwa Eddy Manoppo tetap berprestasi dengan partner baru, bahkan menjadi legenda bersama Henky, adalah bukti paling kuat bahwa tudingan itu tidak berdasar.
Jejak yang Tertinggal
Nama Henky Lasut dan Eddy Manoppo kini menjadi nama gedung Bridge Center Manado, simbol penghargaan negara atas kontribusi mereka. Tapi lebih dari itu, warisan mereka hidup dalam gaya main, etos kompetisi, dan semangat bridge Indonesia.
Utu Manoppo, meski memilih jalur sunyi, tetap dikenang sebagai bagian dari pasangan paling fenomenal yang pernah dimiliki Indonesia.
Ia tidak pernah membantah, tidak pernah membela diri secara publik. Tapi mereka yang pernah melihatnya bermain tahu: Utu adalah seniman bridge yang tak banyak bicara, tapi tajam di meja permainan.
Sejarah Tak Bisa Dihapus
Kisah Manoppo bersaudara dan Henky Lasut adalah kisah tentang kejayaan, tudingan, dan pembuktian. Tentang bagaimana rumor bisa menghancurkan, tapi juga bagaimana konsistensi bisa membangun kembali kepercayaan.
Radar gelap mungkin menghantui sejarah, tapi tidak pernah membuktikan apa-apa. Yang terbukti adalah: mereka tetap legenda. Dan sejarah, pada akhirnya, lebih percaya pada hasil daripada rumor.
“Kalau saya hanya mengandalkan permainan curang, saya tidak akan bisa berprestasi dengan partner baru.”
— Eddy Manoppo, kepada gambid.id
Mungkin bagi para pemain bridge muda, tak akan pernah melihat lagi permainan Eddy Manoppo.
Namun satu hal, bagi generasi yang sempat mendapat kesempatan emas menonton play Eddy Manoppo, di sana ada decak kagum, rasa geli bercampur deg-degan. Ia berhasil menyelesaikan kontrak, yang bagi pemain kebanyakan itu down satu atau dua.
Pun dengan defence-nya, ketika bidding selesai, Pasangan Hengky Eddy seperti sudah tahu distribusi kartu dan honor setiap suit ada di tangan siapa.