Jika sebuah rumah sakit di Manado harus menggunakan nama seseorang, maka nama yang pertama terlintas seharusnya bukan akronim politik. Seharusnya bukan pula singkatan yang lahir dari hasil pemilihan lima tahunan.
Sebab jauh sebelum para politisi bergantian datang membawa program dan slogan, tanah Minahasa telah melahirkan seorang perempuan yang mengubah sejarah Indonesia.
Namanya Marie Thomas. Dokter perempuan pertama di Indonesia.
Ironisnya, tak banyak orang Sulawesi Utara yang mengenalnya.
Seorang putri Likupang yang menembus dunia kedokteran ketika sebagian besar perempuan bahkan tidak mendapat kesempatan duduk di bangku pendidikan tinggi.
Padahal sebelum republik ini lahir, sebelum Indonesia mengenal istilah emansipasi modern, bahkan sebelum sebagian besar perempuan Nusantara memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, seorang gadis dari Likupang sudah nekat menembus dunia yang hampir sepenuhnya milik laki-laki.
Marie Thomas lahir dengan nama Maria Emilia Thomas di Likupang pada 17 Februari 1896. Ayahnya, Adriaan Thomas, merupakan seorang tentara, sementara ibunya bernama Nicolina Maramis.
Karena pekerjaan sang ayah, keluarga mereka kerap berpindah-pindah daerah. Namun, perpindahan itu membawa Marie bertemu dunia pendidikan, sebuah kemewahan yang masih jauh dari jangkauan kebanyakan perempuan pribumi pada masa kolonial.
Mimpi menjadi dokter pada masa itu bukan perkara sederhana.
Awal abad ke-20 adalah zaman ketika perempuan bahkan dianggap tidak perlu bersekolah terlalu tinggi.
Sekolah kedokteran STOVIA di Batavia juga pada mulanya tidak menerima mahasiswa perempuan. Situasi baru berubah setelah perjuangan sejumlah tokoh perempuan Belanda yang mendorong agar perempuan mendapat kesempatan belajar kedokteran.
Kesempatan itu datang, tetapi tidak sepenuhnya mudah.
Saat masuk STOVIA pada 1912, Marie menjadi satu-satunya perempuan di antara ratusan mahasiswa laki-laki. Bayangkan suasananya. Tidak ada senior perempuan atau teman seperjuangan perempuan. Tidak ada sosok teladan, karena memang belum pernah ada yang menjalani jalan tersebut sebelumnya.
Sepuluh tahun kemudian, ia berhasil menamatkan pendidikan dan menciptakan sejarah sebagai dokter perempuan pertama Indonesia. Sebuah pencapaian yang hari ini mungkin terdengar biasa, tetapi pada tahun 1922 itu adalah revolusi sosial yang luar biasa besar.
Kariernya tidak berhenti setelah lulus.
Ia bekerja di berbagai kota, mulai dari Batavia, Medan, Manado hingga Bukittinggi. Bidang yang kemudian menjadi spesialisasinya adalah kebidanan dan kandungan.
Ia bahkan menajdi dokter Indonesia pertama yang menjadi spesialis obstetri dan ginekologi. Di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan zaman itu, ribuan perempuan dan bayi merasakan manfaat dari pengabdiannya.
Namanya juga tercatat sebagai salah satu dokter yang terlibat dalam pengenalan metode kontrasepsi modern di Indonesia. Tidak berhenti di situ, pada 1950 ia mendirikan sekolah kebidanan di Bukittinggi, yang menjadi sekolah kebidanan pertama di Sumatera dan salah satu yang paling awal di Indonesia.
Dengan kata lain, perjalanan hidup Marie bukan hanya tentang menjadi dokter. Tapi menciptakan dokter-dokter lain, melahirkan tenaga kesehatan baru dan memperluas akses perempuan terhadap layanan kesehatan.
Dan dia melakukannya puluhan tahun sebelum kata “pemberdayaan perempuan” menjadi tema seminar dan baliho pemerintahan.
Pada 10 Oktober 1966, Marie Thomas meninggal dunia di Bukittinggi pada usia 70 tahun setelah lebih dari empat dekade mengabdikan hidupnya bagi dunia kesehatan.
Sayangnya, seperti banyak tokoh besar Indonesia, namanya perlahan tenggelam.
Padahal kalau bicara tentang siapa yang paling layak diabadikan sebagai nama rumah sakit di Sulawesi Utara, rasanya sulit mencari sosok yang lebih pantas daripada Marie Thomas.
Sudah sepantasnya para pejabat terkait malu, rumah sakit lebih memilih menggunakan nama program politik atau akronim para penguasa yang sedang berkuasa.
Jujur saja.
Bagi sejarah, nama Marie Thomas jauh lebih besar daripada sekadar gabungan inisial dua politisi. Politisi datang dan pergi mengikuti siklus pemilihan. Marie Thomas tetap ada dalam buku sejarah.
Politisi berganti setiap lima tahun, Dokter perempuan pertama Indonesia abadi, hanya lahir satu kali.
Sebab rumah sakit seharusnya mengabadikan pengabdian, bukan pencitraan.
Dan jika Sulawesi Utara benar-benar ingin menghormati putra-putri terbaiknya, maka nama Marie Thomas sudah seharusnya ada di tempat yang lebih terhormat daripada sekadar catatan kaki dalam buku sejarah yang jarang dibuka orang.
Jeanne Mandagi, Polwan Pertama yang Jadi Jendral