Belakangan ini banyak anak muda mengenal tokoh perempuan hebat dari film, media sosial, atau serial dokumenter. Nama-nama mereka mudah muncul di linimasa dan menjadi bahan perbincangan.
Namun jauh sebelum era internet dan sebelum istilah women empowerment menjadi tren, Indonesia sebenarnya sudah memiliki sosok perempuan yang berhasil menembus batas yang saat itu nyaris mustahil terwujud.
Namanya Jeanne Mandagi.
Lahir di Manado pada 2 April 1937, Jeanne tumbuh dalam lingkungan keluarga Minahasa yang menempatkan pendidikan sebagai salah satu prioritas utama.
Masa kecil dan pendidikan dasarnya dijalani di sekolah-sekolah Katolik di Manado sebelum kemudian melanjutkan pendidikan ke Jakarta. Setelah lulus SMA Santa Ursula, ia melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan meraih gelar sarjana hukum pada 1963.
Semasa kuliah, ia juga aktif dalam organisasi PMKRI, sebuah pengalaman yang ikut membentuk karakter kepemimpinannya di kemudian hari.
Pada masa itu, pilihan karier bagi perempuan tidak sebanyak sekarang. Menjadi dokter, guru, atau pegawai negeri sudah jadi pencapaian yang baik.
Namun Jeanne memilih jalan yang jauh lebih terjal. Pada 1 Desember 1965, ia resmi bergabung sebagai anggota Polisi Wanita atau Polwan. Karirnya menanjak perlahan tapi pasti tanpa sorotan.
Ia pernah bertugas sebagai Kepala Seksi Hukum Polda Maluku sebelum pindah ke Jakarta. Di ibu kota, Jeanne menangani pembinaan anak-anak, pemuda, dan perempuan di lingkungan Polda Metro Jaya.
Ia juga pernah menjalankan tugas sebagai hakim Mahkamah Militer untuk wilayah Jakarta dan Banten. Jabatan-jabatan tersebut mungkin tidak banyak dikenal masyarakat umum, tetapi menjadi fondasi penting bagi perjalanan kariernya.
Salah satu bidang yang paling melekat dengan namanya adalah pemberantasan narkoba. Ketika penyalahgunaan narkotika belum menjadi perhatian besar seperti sekarang, Jeanne sudah mengikuti berbagai pelatihan internasional mengenai pengendalian narkotika.
Ia mengikuti program yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pelatihan penegakan hukum narkoba di Amerika Serikat. Ilmu yang diperoleh kemudian diterapkan dalam berbagai penugasan di lingkungan Polri.
Perjalanan panjang tersebut membuatnya mengemban berbagai posisi strategis. Pada 1989, ia mendapat amanah sebagai Kepala Divisi Penerangan Polri, yang kini berganti istilah sebagai Divisi Humas Polri.
Bagi institusi sebesar Polri, posisi tersebut bukan sekadar jabatan administratif. Divisi ini menjadi wajah kepolisian di hadapan masyarakat dan media.
Dua tahun kemudian, sejarah tercipta.
Pada 1991, Jeanne Mandagi resmi menyandang pangkat Brigadir Jenderal Polisi. Dengan pangkat bintang satu itu, ia menjadi polisi wanita pertama yang berhasil mencapai jenjang jenderal dalam sejarah Kepolisian Republik Indonesia.
Sebuah pencapaian yang hingga hari ini masih tercatat sebagai tonggak penting perjalanan Polwan Indonesia.
Namun warisan Jeanne bukan hanya itu. Di luar tugas kedinasan, ia sangat aktif dalam kampanye pemberantasan narkoba dan rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika.
Ia juga mendirikan Yayasan Permadi Siwi yang bergerak dalam bidang rehabilitasi pecandu narkoba. Bagi Jeanne, tugas melayani masyarakat tidak selesai ketika jam dinas berakhir.
Kehidupan pribadinya juga relatif jauh dari sorotan. Dalam sejumlah dokumentasi resmi Polri, ia menikah dengan Kadihu Poli dan membangun keluarga di tengah kesibukan kariernya sebagai anggota kepolisian.
Pada 7 April 2017, lima hari setelah ulang tahunnya yang ke-80, Jeanne Mandagi meninggal dunia di Jakarta. Kepergiannya tidak menjadi berita besar selama berminggu-minggu.
Tidak ada siaran langsung nasional. Tidak ada hiruk-pikuk media sosial seperti yang biasa terjadi sekarang. Namun jasa dan pengaruhnya tetap hidup di lingkungan kepolisian Indonesia.
Salah satu bentuk penghormatan terhadapnya adalah pengabadian nama Jeanne Mandagi pada Mess Polwan Jeanne Mandagi di lingkungan Polda Sumatera Selatan.
Bagi jajaran Polwan, nama tersebut bukan sekadar papan nama bangunan, melainkan pengingat tentang sosok perempuan yang membuka jalan bagi generasi sesudahnya.
Kadang sejarah memang lucu. Daerah lain menjaga namanya, sementara kampung halamannya sendiri seperti kehilangan ingatan.
Jeanne Mandagi tidak meminta patung. Tidak meminta jalan raya memakai namanya.
Tetapi rasanya terlalu berlebihan jika seorang perempuan yang berhasil menjadi jenderal polisi wanita pertama Indonesia justru lebih mendapat penghargaan di luar Sulawesi Utara daripada di tanah kelahirannya.
Kita rajin membangun tugu untuk yang berkuasa hari ini, tetapi pelit memberi tempat bagi mereka yang telah mengubah sejarah.
Di Manado, nama Jeanne Mandagi tidak selalu muncul dalam daftar tokoh inspiratif. Padahal tidak banyak putra-putri daerah yang mampu mencatatkan namanya dalam sejarah nasional dengan cara seperti yang ia lakukan.
Mungkin itulah nasib sebagian tokoh besar.
Mereka tidak meninggalkan lagu, film, atau selebrasi yang mudah diingat. Mereka meninggalkan sesuatu yang lebih sunyi: peluang bagi orang lain untuk melangkah lebih jauh.
Jika hari ini seorang perempuan Indonesia dapat bermimpi menjadi perwira tinggi Polri tanpa menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil, ada jejak Jeanne Mandagi di balik mimpi tersebut.
Dan untuk sebuah bangsa yang sering lupa pada sejarahnya sendiri, nama itu sebenarnya layak untuk lebih sering mengapung. Bukan karena ia jenderal, melainkan karena ia adalah orang pertama yang berani membuka pintu ketika hampir tak seorang pun percaya pintu itu bisa terbuka.