Adriano Padama dan Amran Sulaiman, Aspirasi Bertemu Eksekusi

Adriano Jeconia Padama. Ia merupakan mahasiswa baru Program Studi S1 Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip angkatan 2026.

==

Hampir tiga bulan berlalu sejak drama inspiratif di Gedung Muladi Dome Universitas Diponegoro (Undip) Tembalang pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kini, satu sudut Nusantara mulai merasakan perubahan yang nyata. Keluhan bersambut tindakan. Aspirasi berjumpa eksekusi.

Peristiwa itu bermula ketika sesi dialog Kuliah Umum Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026/2027 hampir berakhir. Seorang pemuda asal Alor, NTT, tiba-tiba berteriak lantang dari barisan belakang peserta.

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman selaku pemateri langsung memintanya maju ke podium. Di hadapan 5.155 mahasiswa baru yang memenuhi arena, pemuda itu menggenggam mikrofon dengan tangan gemetar.

Pemuda itu bernama Adriano Jeconia Padama. Ia merupakan mahasiswa baru Program Studi S1 Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip angkatan 2026.

Adriano tidak mengajukan pertanyaan akademis seperti lazimnya mahasiswa baru. Ia tidak berbicara tentang teori hubungan internasional, politik global, atau dinamika diplomasi.

Adriano Padama membawa sesuatu yang jauh lebih mendasar. Ia menyuarakan jeritan masyarakat di kampung halamannya, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Masalah utamanya adalah kerapuhan ketahanan pangan akibat tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar daerah.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyimak setiap kalimat yang keluar dari pemuda asal Kalabahi tersebut.

Dengan suara yang beberapa kali bergetar karena menahan emosi, Adriano, membeberkan kondisi riil masyarakat Alor. Kabupaten tersebut membutuhkan sekitar 24.000 hingga 27.000 ton beras setiap tahun.

Namun sektor pertanian lokal hanya mampu memenuhi sekitar 10 persen kebutuhan tersebut. Artinya, sekitar 90 persen kebutuhan beras masyarakat bergantung sepenuhnya pada pasokan luar pulau melalui jalur laut.

Angka itu bukan sekadar statistik. Tapi menggambarkan betapa rapuhnya sistem pangan sebuah kabupaten kepulauan ketika cuaca tidak bersahabat. Ketika gelombang tinggi melanda perairan Nusa Tenggara Timur, kapal pengangkut logistik sering gagal merapat. Akibatnya, pasokan beras menurun, stok pasar menyusut. Harga lalu melesat jauh dari jangkauan masyarakat.

Harga beras di sejumlah wilayah pedalaman Alor bisa menembus Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Angka ini jauh melampaui harga lazim di banyak wilayah Indonesia. Lonjakan hingga dua kali lipat tersebut menghantam keras daya beli masyarakat Alor.

Suasana forum mendadak hening ketika Adriano mulai menceritakan dampaknya. Keluarga yang kesulitan membeli beras terpaksa mengonsumsi umbi-umbian sebagai makanan utama dalam waktu panjang. Pola makan yang minim variasi ini memicu penumpukan gas dalam saluran cerna, perut kembung, serta konstipasi kronis.

Literatur medis menunjukkan bahwa konstipasi kronis dapat mengeraskan tinja, melukai jaringan anus (anal fissure), lalu memicu spasme otot sfingter yang menyebabkan nyeri hebat saat buang air besar.

Bagi banyak anak di Alor, krisis pangan tidak hanya menghadirkan rasa lapar, tetapi juga menghadirkan penderitaan fisik yang nyata.

Andi Amran Sulaiman yang terus mendengarkan penjelasan Adriano tetiba menyela, lalu memanggil jajaran Perum Bulog. Tak puas sampai di situ, Amran langsung menghubungi Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani melalui telepon genggamnya di atas panggung.

Di depan ribuan saksi, Amran memerintahkan jajaran Bulog agar segera mengirim pasokan beras darurat ke Kabupaten Alor untuk membantu kebutuhan sekitar 300.000 penduduk setempat.

Amran juga menegaskan pelaksanaan operasi pasar dengan harga Rp12.500 per kilogram sesuai arahan pemerintah. Tak cukup, Amran juga mendorong penguatan infrastruktur logistik pangan di daerah tersebut.

Namun nilai terbesar dari peristiwa ini tidak terletak pada sambungan telepon di atas panggung. Nilai sesungguhnya muncul dari apa yang terjadi setelah acara berakhir. Banyak janji berhenti di ruang pidato. Banyak pejabat berhenti pada konferensi pers.

Realitas di lapangan sering kali memperlihatkan pemandangan ironis ketika oknum pejabat memberikan bantuan hanya di depan kamera, lalu mengambilnya kembali setelah sorot lampu padam. Sejumlah testimoni miring mengenai fenomena tersebut kerap berseliweran di ruang digital.

Namun, kasus Alor bergerak ke arah yang berbeda.

Usai kegiatan di Semarang, Amran tidak membiarkan persoalan itu menguap begitu saja. Ia membatalkan sejumlah agenda penting di Jakarta dan memilih turun langsung ke lapangan. Dua hari setelah sesi dialog di Muladi Dome, Andi Amran Sulaiman memimpin kunjungan kerja ke Kabupaten Alor. Ia mengajak Adriano Padama masuk dalam rombongan resmi kementerian.

Langkah ini mengirim pesan warga juga dapat ikut mengawasi realisasi kebijakan.

Kunjungan tersebut melahirkan sejumlah langkah konkret. Kementerian Pertanian bersama Bulog menggelar Gerakan Pangan Murah dan menyalurkan bantuan pangan untuk beberapa bulan ke depan. Distribusi beras menjangkau pasar tradisional hingga desa-desa yang sebelumnya mengalami tekanan pasokan paling parah.

Hasilnya terlihat dalam waktu relatif singkat. Harga beras yang sebelumnya berkisar Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram turun drastis mendekati Rp13.000 per kilogram. Penurunan ini memberi ruang bernapas bagi ribuan keluarga yang selama berbulan-bulan menghadapi tekanan biaya hidup akibat mahalnya harga bahan pokok.

Pemerintah juga memperkuat infrastruktur logistik daerah. Bulog kini mengisi penuh gudang penyimpanan pangan di Alor dengan cadangan beras pemerintah. Langkah ini sangat strategis. Ketika cuaca buruk kembali menghambat pelayaran, masyarakat masih memiliki stok cadangan yang cukup untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Namun Amran tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek. Ia mengarahkan perhatian pada sektor hulu agar Alor tidak terus-menerus bergantung pada pasokan luar pulau. Kementerian menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa traktor roda dua dan traktor roda empat untuk mempercepat pengolahan lahan.

Puluhan pompa air masuk ke sentra produksi pertanian guna membantu kebutuhan irigasi lahan kering. Pemerintah merencanakan pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah yang kerap menghadapi kekeringan panjang. Intervensi tersebut menyasar akar persoalan yang selama ini membatasi produktivitas pertanian Alor.

Pemerintah juga menyalurkan bibit padi unggul yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan kering.

Kelompok tani menerima bibit kelapa dan kakao guna memperluas sumber pendapatan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah tidak hanya mengejar ketersediaan beras, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi rumah tangga petani secara mandiri.

Di tengah seluruh rangkaian peristiwa tersebut, kisah Adriano Padama menghadirkan pelajaran yang tidak kalah penting. Banyak mahasiswa menganggap kampus hanya sebagai tempat mencari gelar.

Adriano menunjukkan fungsi yang lebih besar. Ia memanfaatkan ruang akademik untuk membawa persoalan publik langsung ke hadapan pengambil kebijakan nasional. Ia tidak meminta bantuan untuk diri sendiri, melainkan memperjuangkan masyarakat yang jaraknya ribuan kilometer dari Semarang.

Keberanian itu mendorong Universitas Diponegoro memberikan apresiasi tinggi. Rektor Undip menjamin beasiswa penuh program pascasarjana double degree setelah Adriano menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Program tersebut mencakup Magister Administrasi Publik di Universitas Diponegoro dan Master of Arts in Politics, Governance and Public Policy di University of Sheffield, Inggris.

Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Alor juga menyatakan dukungan penuh terhadap biaya hidup Adriano selama masa kuliah. Sementara itu, Andi Amran Sulaiman membantu biaya tempat tinggal Adriano Padama pada tahun-tahun awal perkuliahan melalui dana pribadi.

Nilai terbesar dari kisah ini bukanlah beasiswa, bantuan logistik, atau penghargaan untuk seorang mahasiswa baru. Kekuatan terbesar kisah ini lahir dari pertemuan dua peran yang berjalan sebagaimana mestinya.

Adriano Padama menunjukkan bagaimana mahasiswa harus jadi perwakilan, membawa aspirasi, generasi intelek menjadi jembatan antara masyarakat dan negara.

Andi Amran Sulaiman menunjukkan bagaimana pejabat publik seharusnya bekerja ketika berhadapan dengan persoalan rakyat. Bukan sibuk bikin konten untuk kepentingan Pilpres.

Joni Harta Menggugat Arogansi Jakarta

Tinggalkan komentar