Cabang olahraga Contract Bridge di Asian Mind Sports di Singapura menghadirkan 10 tim pria, 10 tim wanita, dan 20 pasangan dari lebih dari 10 negara. China, India, Singapura, Jordan, Hong Kong, dan Filipina saling beradu kecerdasan dalam format beregu dan pasangan selama tiga hari penuh.
Kompetisi dimulai dengan kategori pasangan pada Kamis, 13 November, yang terdiri dari delapan ronde intensif dari pagi hingga malam.
Pasangan China Hou Xu dan Zhang Wei tampil dominan sejak awal, mengumpulkan 257.5 matchpoints dengan persentase 57.48%.
Mereka unggul dalam konsistensi, dengan skor stabil di semua ronde dan penutupan kuat di R8.
Di posisi kedua, pasangan India Sapan Desai dan Debabrata Majumder mencetak 249.5 matchpoints (55.69%), menunjukkan gaya permainan agresif dan penuh risiko.
Singapura tak mau kalah: pasangan Derek Lee dan Rajendra Krishnan menempati posisi ketiga dengan 246.5 matchpoints (55.02%), diikuti Timothy Wu dan Zhang Yukun di posisi keempat (245.8, 54.87%).
Pasangan China lainnya, Cai Yang dan Sun Gang, berada di posisi kelima (235.2, 52.5%), sementara pasangan Singapura Kelvin Ng dan Luo Cheng menempati posisi keenam (232.5, 51.9%).
India menempatkan tiga pasangan di papan tengah: Prasad Keni–Uttam Gupta (217.5), Guru S Sundaram–Desur V Ravi (195.5), dan Shri Rajachandra–T Sankar (146.5). Filipina, lewat Francisco Alquiros dan George Soo, mencuri perhatian dengan 213.5 matchpoints, menunjukkan bahwa negara berkembang pun bisa bersaing di arena strategi Asia.
Di kategori wanita, dominasi China kembali terlihat di cabang Bridge Asian Mind Sports 2025.
Pasangan Zuo Xiaoxue dan Wang Juyu memimpin dengan 263 matchpoints (58.71%), unggul jauh dari pesaing terdekat.
Singapura bangkit lewat Leong Jia Min dan Jazlene Ong yang menempati posisi kedua (253, 56.47%), menunjukkan bahwa regenerasi pemain wanita berjalan baik. Hong Kong, lewat Pauline Ling dan Emma Cheung, berada di posisi ketiga (240, 53.57%), diikuti pasangan China Zhou Lihua dan Shao Peipei (239, 53.35%).
India menempatkan Vidhya Patel dan Kalpana Gurjar di posisi kelima (234, 52.23%), sementara pasangan Singapura Seet Choon Cheng dan Kho Jie Min berada di posisi keenam (220, 49.11%). Jordan, yang tampil dengan dua pasangan, menunjukkan semangat luar biasa: Hala Sawaf–Amal Fakhouri (209, 46.65%) dan Huda Rabaia–Lina Almasri (191, 42.63%).
Meski belum menembus papan atas, kehadiran Jordan menjadi simbol inklusi dan keberanian tampil di panggung Asia. India juga menurunkan Rupa Bakeri dan Aparna Sain (175, 39.06%). Sementara Hong Kong lewat Charmian Koo dan Zoe Li (216, 48.21%).
Jadwal kompetisi padat namun efisien. Setelah briefing final pada Rabu malam, delapan ronde pasangan berlangsung sepanjang Kamis. Mulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 21.35. Jumat dan Sabtu untuk pertandingan beregu, terbagi dalam dua fase round-robin.
Setiap hari terdiri dari lima ronde, dengan jeda makan siang dan makan malam yang ketat. Sabtu malam ratifikasi skor dan pemberian hadiah.
Di kategori beregu pria, China menurunkan tim solid dengan Zhang Wei, Cai Yang, dan Sun Gang sebagai tulang punggung.
Singapura tampil dengan dua tim: Red dan Blue, ada nama Zhang Yukun, Kelvin Ng, dan Timothy Wu di tim Red. Serta Rajendra Krishnan dan Marvin Lai di tim Blue.
India juga menurunkan dua tim: Blue dan Red. Tentunya dengan kombinasi pemain senior dan muda seperti T Sankar, Guru Shankar Sundaram, dan Prasad Keni.
Kategori beregu wanita lebih beragam.
China menurunkan dua pasangan unggulan dan tim beregu yang beranggotakan Wang Nan dan Zuo Xiaoxue. Singapura tampil dengan Leong Jia Min, Jazlene Ong, dan Yeo Hui Teng.
India menurunkan enam pemain, termasuk Kavita Singhania dan Aparna Sain. Hong Kong dan Jordan melengkapi daftar peserta dengan tim yang membawa semangat regional dan solidaritas lintas budaya.
Asian Sport Minds bukan hanya kompetisi, tetapi juga ruang diplomasi intelektual. Setiap pasangan membawa sistem konvensi yang berbeda, dari Precision Club hingga Two-over-One. Setiap bidding adalah percakapan diam yang penuh makna.
Di balik setiap boardnya, ada strategi, intuisi, dan keberanian mengambil risiko. Bridge menjadi simbol bahwa olahraga bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal nalar, naluri, dan kerja sama.
Singapura sebagai tuan rumah berhasil menciptakan atmosfer kompetitif yang sehat, dengan fasilitas yang mendukung dan jadwal yang disiplin.
Prize giving pada Sabtu malam akan menjadi penutup yang elegan. Bukan hanya untuk pemenang, tetapi semua peserta yang telah menunjukkan dedikasi dan sportivitas.
Bridge di Asian Sport Minds 2025 membuktikan bahwa Asia punya masa depan cerah di cabang olahraga otak. China memimpin, Singapura bangkit, India konsisten, dan Jordan berani tampil. Di meja bridge, semua negara punya peluang yang sama untuk bersinar.
Asian Mind Sports Festival 2025 Berlangsung di Singapura