Catur bukan sekadar permainan papan dan pion. Di PON XXI Aceh–Sumut 2024, catur menjelma menjadi arena adu nalar, disiplin, dan ketahanan mental antar provinsi. Dari pembukaan tajam hingga endgame presisi, setiap langkah mencerminkan strategi yang telah diasah bertahun-tahun. Di tengah dinginnya udara Berastagi, Sumatera Utara, para pecatur terbaik Indonesia bertarung bukan hanya demi medali, tapi demi reputasi, sejarah, dan kebanggaan daerah.
Cabang olahraga catur di PON XXI berlangsung dari 10 hingga 19 September di Hotel Mikie Holiday, Berastagi, Kabupaten Karo. Venue yang sejuk dan tenang ini menjadi saksi pertarungan strategi dari 34 provinsi, memperebutkan 12 medali emas dari tiga kategori waktu: standar, cepat, dan kilat. Setiap kategori terdiri dari nomor perorangan dan beregu, putra dan putri.
DKI Jakarta tampil sebagai kontingen paling dominan, memborong 8 dari 12 medali emas. Empat emas lainnya diraih oleh Jawa Timur, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Berikut hasil lengkap dan teknis dari seluruh nomor pertandingan.
Berikut perolehan medali (emas perak perumggu) di Arena PON Sumatera Utara 2024
Catur Standar Beregu Putra
Emas: DKI Jakarta
Perak: Jawa Timur
Perunggu: Jawa Barat
Catur Standar Beregu Putri
Emas: DKI Jakarta
Perak: Jawa Barat
Perunggu: Lampung
Catur Cepat Beregu Putra
Emas: Jawa Timur
Perak: Sumatera Utara
Perunggu: Kalimantan Tengah
Catur Cepat Beregu Putri
Emas: DKI Jakarta
Perak: Jawa Barat
Perunggu: Jawa Timur
Catur Kilat Beregu Putra
Emas: DKI Jakarta
Perak: Gorontalo
Perunggu: Banten
Catur Kilat Beregu Putri
Emas: DKI Jakarta
Perak: Jawa Barat
Perunggu: Jawa Tengah
Catur Standar Perorangan Putra
Emas: Taufik Halay (Papua Pegunungan)
Perak: GM Novendra Priasmoro (DKI Jakarta)
Perunggu: Jalaluddin Al Mubarok (Aceh)
Catur Standar Perorangan Putri
Emas: Shafira Devi Herfesa (Daerah Istimewa Yogyakarta)
Perak: IM Irene K Sukandar (Jawa Barat)
Perunggu: Ivana Lasama (Papua)
Catur Cepat Perorangan Putra
Emas: GM Novendra Priasmoro (DKI Jakarta)
Perak: CM Muhammad Kamalsyah (Kalimantan Barat)
Perunggu: FM Arif Abdul Hafiz (Jawa Barat)
Catur Cepat Perorangan Putri
Emas: WIM Chelsie Monica Sihite (Kalimantan Timur)
Perak: IM Irine K Sukandar (Jawa Barat)
Perunggu: WIM Ummi Fisabilillah (DKI Jakarta)
Catur Kilat Perorangan Putra
Emas: GM Novendra Priasmoro (DKI Jakarta)
Perak: FM Arif Abdul Hafiz (Jawa Barat)
Perunggu: CM Muhammad Kamalsyah (Kalimantan Barat)
Catur Kilat Perorangan Putri
Emas: WIM Ummi Fisabilillah (DKI Jakarta)
Perak: IM Irine Kharisma Sukandar (Jawa Barat)
Perunggu: WIM Chelsie Monica Sihite (Kalimantan Timur)
Statistik Akhir
- DKI Jakarta: 8 emas, 3 perak, 1 perunggu
- Jawa Timur: 1 emas, 2 perak, 2 perunggu
- Kalimantan Timur: 1 emas, 1 perunggu
- Papua Pegunungan: 1 emas
- Daerah Istimewa Yogyakarta: 1 emas
- Jawa Barat: 3 perak, 3 perunggu
- Kalimantan Barat: 2 perak
- Sumatera Utara, Gorontalo, Lampung, Aceh, Papua, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Banten: masing-masing 1 medali
PON XXI membuktikan bahwa dominasi bukanlah monopoli satu provinsi. Meski DKI Jakarta tampil superior, munculnya Papua Pegunungan, Kalimantan Timur, dan DIY sebagai peraih emas menunjukkan bahwa kekuatan catur Indonesia semakin tersebar. Nama-nama seperti Taufik Halay dan Shafira Devi menjadi simbol regenerasi dan potensi dari wilayah non-Jawa.
Di sisi lain, para pecatur senior seperti Novendra Priasmoro, Irene Kharisma Sukandar, dan Chelsie Monica tetap menunjukkan kelasnya. Mereka bukan hanya membawa medali, tetapi juga menjadi role model bagi generasi muda. Kombinasi antara pengalaman dan kejutan baru membuat kompetisi catur PON XXI terasa hidup, dinamis, dan penuh warna.
Dengan atmosfer kompetisi yang sehat, venue yang mendukung, dan distribusi medali yang merata, catur PON XXI Aceh–Sumut 2024 layak dikenang sebagai titik balik. Bukan hanya soal siapa juara, tetapi tentang bagaimana catur Indonesia bergerak maju—dengan nalar, naluri, dan semangat juang dari seluruh penjuru negeri.
Dengan hasil ini, PON XXI juga menegaskan pentingnya pembinaan jangka panjang dan regenerasi atlet di setiap daerah. Provinsi yang mampu menggabungkan pengalaman grandmaster dengan semangat dan kejutan dari pemain muda terbukti lebih kompetitif dan adaptif di semua kategori waktu. Catur Indonesia tidak lagi hanya milik segelintir provinsi besar—ia kini menjadi panggung terbuka bagi siapa pun yang siap bertarung dengan nalar, naluri, dan disiplin tanpa kompromi.
Pecatur Dunia yang Pernah Mencapai Rating 2800