Cabang olahraga Bridge Porprov XII Sulut 2025 menghadirkan cerita penuh strategi, kejutan, dan emosi. Kota Manado sebagai tuan rumah menargetkan dominasi di berbagai nomor, bahkan sempat muncul ambisi “sapu bersih” medali emas.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bridge Sulut tidak bisa lagi dipandang sebagai milik satu kota saja. Dua nomor yang sudah selesai dipertandingkan, yaitu pasangan campuran dan beregu campuran, memperlihatkan dinamika baru: Manado sukses di pasangan, tetapi harus mengakui keunggulan Tomohon di beregu.

Pasangan Campuran: Mondigir–Lasut Tampil Gemilang
Nomor pasangan campuran menjadi laga pembuka yang langsung menyedot perhatian publik. Sepuluh pasangan dari Manado, Tomohon, Minahasa, dan Minahasa Utara turun bertanding di Aula BKPSDM Kompleks Kantor Walikota Manado.
Pasangan andalan tuan rumah, Bill Mondigir–Elvita Lasut, tampil luar biasa. Dengan pengalaman segudang di tingkat nasional dan internasional, mereka mampu mengendalikan jalannya pertandingan.
Mondigir dan Lasut bukan nama baru: mereka pernah memperkuat tim campuran Indonesia di Asian Games 2018, bahkan melanglang ke Eropa dan Amerika Serikat. Rekam jejak mereka termasuk medali emas PON Riau 2012, sehingga ekspektasi publik memang tinggi.
Hasilnya sesuai harapan. Mondigir–Lasut merebut medali emas pertama untuk Kota Manado di cabor bridge Porprov XII Sulut 2025. Kemenangan ini bukan sekadar angka di papan skor, melainkan simbol bahwa pengalaman dan chemistry pasangan veteran masih menjadi senjata ampuh.
Di posisi kedua, pasangan Donald Sumanti–Deysi Kalengkongan dari Minahasa Utara tampil solid dan berhak atas medali perak.
Sementara perebutan perunggu berlangsung ketat, akhirnya dimenangkan bersama oleh dua pasangan: Jani Fehr–Amelia Tangkuman dari Minahasa dan Ever Slat–Sesca Nicolas dari Minahasa Utara.
Beregu Campuran: Tomohon Membalikkan Prediksi
Jika di pasangan campuran Manado berjaya, di nomor beregu campuran cerita berbeda terjadi. Lima tim turun bertanding: Manado, Tomohon, Bitung, Minahasa, dan Minahasa Utara.
Secara materi pemain, Manado unggul di atas kertas. Mereka beranggotakan Mondigir dan Lasut yang baru saja meraih emas, ditambah nama-nama berpengalaman seperti Jemmy Tugiman, Kresto Lumintang, Rima Mangundap, dan Putri Pomantow.
Namun lapangan berkata lain. Pada babak penyisihan sistem setengah kompetisi, Minahasa tampil mengejutkan dengan menempati peringkat teratas, mengoleksi 56,48 VP. Tomohon berada di posisi kedua dengan 54,03 VP, disusul Manado dengan 52,18 VP, Minahasa Utara dengan 51,03 VP, dan Bitung di posisi kelima dengan 46,28 VP.
Sesuai regulasi, dua tim teratas berhak tampil di final. Minahasa berhadapan dengan Tomohon untuk memperebutkan emas, sementara Manado dan Minahasa Utara otomatis meraih medali perunggu.
Final berlangsung dramatis.
Setelah 16 papan, Minahasa unggul tipis 4 imp. Namun aturan carry over dari babak penyisihan membuat Tomohon mendapat tambahan 4 imp karena sebelumnya mereka menang atas Minahasa.
Skor akhir menjadi imbang. Lagi lagi dewi fortuna berpihak keapada Kota Tomohon. Sesuai regulasi, Tomohon berhak atas medali emas karena unggul di pertemuan sebelumnya. Minahasa harus puas dengan medali perak.
Kemenangan Tomohon menjadi kejutan besar. Banyak pengamat awalnya tidak memperhitungkan mereka, tetapi tim muda ini membuktikan diri.
Nama-nama seperti Mac Kambey, Royke Tangkawarouw, Hany Sualang, Eibi Sambiran, Deisy Tumbelaka, dan Glow Pangkerego kini tercatat sebagai peraih emas Porprov XII.
Di sisi lain, Minahasa dengan pemain berpengalaman seperti Marzel Kairupan, Jani Fehr, Agape Bogar, Mareska Angkouw, Taliana Malonda, dan Shintya Manueke harus menerima kenyataan pahit. Mereka unggul di final tetapi kalah aturan.
Manado, yang semula difavoritkan, harus puas dengan perunggu bersama Minahasa Utara. Tim Manado berisi Bill Mondigir, Elvita Lasut, Jemmy Tugiman, Kresto Lumintang, Rima Mangundap, dan Putri Pomantow, tetapi gagal menembus final.
Minahasa Utara dengan Ever Slat, Ronald Sumanti, Duncan Dumanauw, Sesca Nicolaas, Deysi Kalengkongan, dan Galilea Dumanauw juga meraih perunggu.
Target Sapu Bersih Pupus
Kota Manado sebagai tuan rumah awalnya menargetkan sapu bersih medali emas di bridge. Namun Ketua Umum Gabungan Bridge Manado (Gabmo) kemudian meluruskan bahwa target realistis adalah tiga emas. Dengan hasil pasangan campuran emas, beregu campuran perunggu, Manado masih harus berjuang di nomor putra, putri, dan beregu putra.
Kegagalan di beregu campuran menunjukkan bahwa dominasi tidak bisa hanya mengandalkan nama besar. Tomohon membuktikan bahwa regenerasi berjalan. Tim muda mereka sudah mendapat tempaan di ajang nasional seperti Menpora Cup Bali, dan kini menuai hasil di Porprov.
Dua nomor yang sudah selesai di Cabor Bridge Porprov XII Sulut 2025 memperlihatkan dinamika menarik.
Dengan tiga nomor lain masih menunggu, publik bridge Sulut tentu menanti apakah Manado mampu menambah emas, apakah Tomohon bisa mempertahankan momentum, dan apakah Minahasa serta Minahasa Utara mampu bangkit.
Hasil Bridge Beregu Asian Mind Sports Festival 2025