Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Utara (Porprov) XII Tahun 2025, telah menyelesaikan rangkaian pertandingan di cabang olahraga catur standar, Kamis (20/11/2025).
Persaingan dalam cabang olahraga Catur standar di Porprov XII Sulawesi Utara 2025 mempertemukan pecatur terbaik dari kabupaten/Kota di Sulut. Lima kategori dipertandingkan: Standar Beregu Putra, Standar Beregu Putri, Standar Perorangan Putra, Standar Perorangan Putri, dan Standar Veteran.
Setiap kategori melahirkan juara yang berhak atas medali emas, sementara posisi kedua dan ketiga masing-masing membawa pulang medali perak dan perunggu.
Selain menampilkan dominasi tim-tim kuat, Porprov kali ini juga menghadirkan kejutan besar, terutama di sektor putri, di mana seorang master wanita gagal menunjukkan kualitasnya.
Berikut rangkaian hasil lengkap yang siap menjadi catatan sejarah catur Sulut.
Standar Perorangan Putra: George Lamia Bersinar
Kategori perorangan putra Catur Porprov Sulut 2025 memperlihatkan dominasi NM George Lamia dari Kabupaten Minahasa Selatan. Dengan empat poin dari lima babak, Lamia tampil konsisten dan menutup turnamen sebagai juara, merebut medali emas.
Yudi David dari Kota Manado tampil solid dengan 3,5 poin dan berhak atas medali perak. Kaharudin Mokoginta dari Kota Kotamobagu juga mengoleksi 3,5 poin, menempati posisi ketiga dan membawa pulang medali perunggu.
Tomy Winowatan dari Bolaang Mongondow Utara dan Van Effendi Tumalang dari Talaud juga mencatat 3,5 poin, namun kalah dalam tie-break. Nama-nama lain seperti Ridelvi Agoan, Alfian Polamolo, Ivan Madelu, dan Nelson Sagune berada di papan tengah dengan hasil cukup solid.
Sementara NM Herry Benjamin dari Bitung, yang diharapkan bisa bersaing di papan atas, justru terpuruk dengan hanya 1,5 poin. Juniko Warouw dari Minahasa dan Jonli Diego Takumansang dari Sitaro menutup daftar dengan hasil mengecewakan.
Standar Perorangan Putri: Linarti Paputungan Juara
Di kategori perorangan putri, Linarti Paputungan dari Kota Kotamobagu tampil sebagai juara dengan 4,5 poin, nyaris sempurna, dan berhak atas medali emas. Fleacity Rawung dari Kabupaten Minahasa meraih empat poin, menempati posisi kedua dan membawa pulang medali perak.
Tasya Tawaang dari Kabupaten Minahasa Selatan juga mencatat empat poin, menempati posisi ketiga dan berhak atas medali perunggu.
Sorotan besar jatuh pada WNM Maria Angkouw dari Minahasa Utara. Sebagai seorang Woman National Master, Angkouw diharapkan menjadi tumpuan daerahnya. Namun di Porprov kali ini, ia justru tampil melempem. Dari lima babak yang dijalani, ia hanya mengumpulkan tiga poin. Angkouw terlihat tidak berdaya, kehilangan arah permainan, dan gagal menunjukkan kualitas seorang master.
Kekalahannya dari pecatur muda seperti Tasya Tawaang dan Fleacity Rawung menjadi bukti bahwa gelar master tidak cukup untuk menghadapi determinasi generasi baru. Angkouw terlihat kehilangan kepercayaan diri, sering membuat kesalahan elementer, dan gagal memanfaatkan pengalaman panjangnya.
Banyak pihak menilai kegagalannya adalah simbol pergeseran kekuatan di catur putri Sulut: generasi baru lebih berani, lebih fokus, dan lebih siap menghadapi tekanan. Angkouw yang dulu menjadi ikon kini harus menerima kenyataan bahwa status master tidak lagi menakutkan bagi lawan-lawannya.
Namun, mungkin saja Angkouw masih kelelahan dan belum rehat karena baru pulang dari ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke 50 di Sulawesi Barat, (7-12/11/2025) membawa nama Sulawesi Utara.
Standar Veteran: Arthur Paath Unggul
Kategori veteran menghadirkan nostalgia sekaligus persaingan sengit. NM Arthur Paath dari Kabupaten Minahasa tampil sebagai juara dengan empat poin, merebut medali emas. NM Hans Pusung dari Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tampil solid dengan 3,5 poin, menempati posisi kedua dan berhak atas medali perak.
Sementara itu, NM Rudi Londok dari Kota Bitung juga mencatat 3,5 poin, menempati posisi ketiga dan membawa pulang medali perunggu.
Jeffry Tjali dari Manado juga mengoleksi 3,5 poin namun kalah dalam tie-break. Nama-nama seperti Charleston Tangkudung, Guntur Mokoginta, Christian Kaparang, dan FM H. Ichdar Damogalad berada di papan tengah dengan hasil beragam.
Sementara Benny Kansil, Ventje Somba, Christian Class, dan Nus Kansil Papuas harus puas di papan bawah. Meski tidak lagi muda, para veteran ini tetap menunjukkan semangat juang yang patut diapresiasi.
Kehadiran mereka memberi warna tersendiri, mengingatkan publik bahwa catur adalah olahraga lintas generasi, di mana pengalaman dan intuisi tetap berharga.
Standar Beregu Putra: Bitung Kokoh di Puncak
Kategori beregu putra menjadi panggung dominasi Kota Bitung. Tim ini tampil kokoh dengan empat kemenangan dan satu hasil imbang dari lima babak, tanpa kekalahan. Dengan sembilan match point dan 14,5 poin papan, Bitung berhak atas medali emas.
Kabupaten Minahasa, yang juga meraih sembilan match point namun hanya mencatat 14 poin papan, harus puas dengan medali perak. Persaingan Bitung dan Minahasa begitu ketat, seolah menegaskan rivalitas lama yang terus hidup di arena catur Sulut.
Kabupaten Bolaang Mongondow Timur tampil solid dengan tujuh match point dan berhak atas medali perunggu.
Manado menempati posisi keempat, sementara tim-tim lain seperti Minahasa Utara, Sangihe, Minahasa Selatan, dan Kotamobagu berada di papan tengah. Tomohon, Bolaang Mongondow Selatan, dan Sitaro harus menerima kenyataan pahit di papan bawah. Dominasi Bitung di kategori ini kembali menegaskan tradisi panjang mereka sebagai basis catur kuat di Sulut.
Standar Beregu Putri: Kotamobagu Sapu Bersih
Di kategori beregu putri, Kota Kotamobagu tampil luar biasa. Mereka menyapu bersih enam kemenangan dari enam pertandingan, mengoleksi 14 match point dengan 15 poin papan. Rekor sempurna ini mengantarkan Kotamobagu merebut medali emas.
Kota Manado berada di posisi kedua dengan 12 match point dan berhak atas medali perak. Kota Bitung menempati peringkat ketiga dengan 10 match point, membawa pulang medali perunggu.
Minahasa Selatan, Minahasa, Tomohon, dan Bolaang Mongondow Utara berada di urutan berikutnya dengan hasil beragam.
Secara keseluruhan, Cabang catur standar Porprov XII Sulawesi Utara 2025 menghadirkan cerita lengkap tentang dominasi, kejutan, dan kegagalan.
Profil 9 Grandmaster Catur Indonesia: Dari Herman hingga Sean