Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) telah menjadi tulang punggung perkembangan olahraga bridge di tanah air. Sejak berdiri pada 12 Desember 1953, sejumlah nama sudah menjadi Ketua Umum GABSI. Di balik setiap langkah maju organisasi ini, berdiri para ketua umum yang membawa visi, karakter, dan pendekatan kepemimpinan yang berbeda.
Dari perwira militer hingga ekonom nasional, inilah jejak para pemimpin PB GABSI yang membentuk wajah bridge Indonesia selama lebih dari tujuh dekade.
1953–1961: Willy Th. Roring
Sebagai pendiri sekaligus ketua umum GABSI pertama, Willy Th. Roring adalah seorang perwira TNI Angkatan Laut yang membawa semangat disiplin dan struktur ke dalam organisasi yang baru lahir. Di bawah kepemimpinannya, GABSI mulai membangun fondasi organisasi dari Surabaya, menyebar ke Malang, dan perlahan menjangkau kota-kota lain di Jawa Timur.
Roring bukan hanya administrator, tapi juga promotor awal bridge sebagai olahraga berpikir yang layak diperjuangkan secara nasional.
1962–1964: Kusno Utomo
Meneruskan tongkat estafet dari Roring, Kusno Utomo memimpin GABSI di tengah dinamika politik nasional yang mulai memanas. Meski masa jabatannya singkat, ia dikenal sebagai figur yang menjaga kesinambungan organisasi dan memperluas jaringan ke luar Jawa Timur.
1964–1966: Harustiati Soebandrio – Perempuan Pertama di Pucuk GABSI
Ny. Dr. Harustiati Soebandrio mencatat sejarah sebagai perempuan pertama sebagai ketua umum GABSI. Di tengah keterbatasan peran perempuan dalam olahraga saat itu, kehadirannya menjadi simbol inklusivitas. Ia juga dikenal sebagai tokoh intelektual yang mendorong bridge sebagai olahraga berpikir yang setara dengan catur.
1966–1968: Dr. G. Rambitan
Dr. G. Rambitan memimpin GABSI di masa transisi pasca-G30S. Fokus utamanya adalah konsolidasi internal dan menjaga agar organisasi tetap berjalan di tengah ketidakpastian nasional. Ia juga mulai memperkenalkan pendekatan ilmiah dalam pelatihan bridge.
1968–1972: Mayjen TNI P. Sobiran
Dengan latar belakang militer, Mayjen TNI P. Sobiran membawa stabilitas dan struktur organisasi yang lebih rapi. Ia menjabat selama dua periode berturut-turut, menandai era di mana GABSI mulai dikenal secara nasional dan mulai menjalin hubungan dengan federasi bridge internasional.
1972–1974: Letjen TNI Kemal Idris
Letjen TNI Kemal Idris, tokoh militer yang dikenal luas, membawa pendekatan strategis dalam memimpin GABSI. Ia melihat bridge bukan sekadar permainan, tetapi sebagai latihan berpikir taktis yang relevan dengan kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
1974–1978: Prof. Dr. Soenawar Sukowati
Sebagai akademisi, Prof. Soenawar membawa pendekatan edukatif dalam pengembangan bridge. Ia mendorong pelatihan sistematis, dokumentasi teknik bermain, dan mulai memperkenalkan bridge ke lingkungan kampus dan pelajar.
1978–1982: Marsda TNI Wisnu Djadjengminardo
Di bawah kepemimpinan Marsda Wisnu, GABSI mulai mengalami modernisasi struktur. Ia memperkenalkan sistem seleksi nasional yang lebih terbuka dan mendorong partisipasi daerah-daerah di luar Jawa. Masa ini juga ditandai dengan peningkatan partisipasi Indonesia di turnamen internasional.
1982–1986: HN Sumual
HN Sumual dikenal sebagai pemimpin yang fokus pada regenerasi. Ia mendorong pembinaan pemain muda dan memperkuat struktur gabungan di tingkat provinsi. Di bawah kepemimpinannya, bridge mulai masuk ke sekolah-sekolah dan klub-klub komunitas.
1986–1990: Tulus Supranoto, SH
Sebagai seorang profesional hukum, Tulus Supranoto memperkuat aspek legal dan tata kelola organisasi. Ia memperjelas struktur keanggotaan, memperbaiki AD/ART, dan memperkuat hubungan GABSI dengan KONI serta lembaga olahraga lainnya.
1990–1994: H. Amran Zamzami, SE
Amran Zamzami dikenal sebagai tokoh yang mendorong ekspansi GABSI ke seluruh Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, jumlah pengurus provinsi meningkat signifikan. Ia juga memperkuat hubungan dengan media untuk meningkatkan eksposur bridge.
1994–2002: Jenderal TNI Wiranto
Menjabat selama dua periode sebagai Ketua Umum GABSI, Jenderal TNI Wiranto membawa GABSI ke level internasional. Di masa inilah Indonesia mulai meraih prestasi di ajang-ajang dunia, termasuk peringkat dua di Olympiade Bridge 1996 dan juara dunia IOC Grand Prix 2000. Ia juga memperkuat sistem pelatihan nasional dan memperluas partisipasi bridge di kalangan TNI dan ASN.
2002–2006: Miranda S. Goeltom
Sebagai ekonom dan mantan Deputi Gubernur BI, Miranda membawa pendekatan diplomatik dan manajerial. Ia memperkuat hubungan GABSI dengan sponsor, memperluas jaringan internasional, dan memperkenalkan bridge sebagai olahraga yang layak mendapat dukungan sektor swasta.
2006–2010: Wimpy S. Tjetjep
Wimpy adalah tokoh yang mulai memperkenalkan digitalisasi dalam administrasi GABSI. Ia juga mendorong dokumentasi turnamen secara daring dan memperkuat sistem pelaporan hasil pertandingan.
2010–2014: Dahlan Iskan
Mantan Menteri BUMN ini membawa semangat baru ke GABSI. Ia adalah pemimpin yang energik dan inovatif. Di bawah kepemimpinannya, bridge mulai lebih menarik untuk generasi muda, termasuk lewat media sosial dan event-event kreatif.
2014–2018: Dr. dr. Ekawahyu Kasih
Sebagai dokter dan akademisi, Ekawahyu menekankan pentingnya bridge sebagai olahraga otak yang mendukung kesehatan mental. Ia juga memperkuat pelatihan berbasis data dan memperluas partisipasi perempuan dalam kompetisi nasional.
2018–2022: Prof. Miranda S. Goeltom
Kembali menjadi Ketua Umum GABSI, Prof. Miranda melanjutkan agenda internasionalisasi dan penguatan tata kelola. Ia juga mendorong partisipasi Indonesia di ajang-ajang seperti Venice Cup dan Asian Games 2018.
2022–2026: Syarif Bastaman
Sebagai ketua umum saat ini, Syarif Bastaman menghadapi tantangan regenerasi, digitalisasi, dan profesionalisasi. Ia menargetkan peningkatan jumlah pemain terdaftar, penguatan kompetisi antar gabungan, serta integrasi bridge ke dalam sistem pendidikan nasional. Di bawah kepemimpinannya, GABSI juga aktif di forum internasional seperti World Bridge Federation dan Asia Pacific Bridge Federation.
Sejarah PB GABSI adalah cermin dari dinamika bangsa: dari militer ke akademisi, dari pionir ke profesional. Setiap ketua umum membawa warna dan warisan tersendiri. Namun satu benang merah menyatukan mereka: komitmen untuk menjadikan bridge sebagai olahraga otak yang bermartabat, berprestasi, dan membumi di seluruh Indonesia.
Kini, tantangan baru menanti: regenerasi, digitalisasi, dan positioning bridge di tengah gempuran e-sport dan budaya instan. Tapi jika sejarah bisa menjadi petunjuk, GABSI tak pernah kekurangan pemimpin yang siap menjawab tantangan zaman.