Sejarah Gua Binsari Biak, Kuburan Massal 3000 Prajurit

Gua Binsari di Pulau Biak, Papua, menjadi saksi bisu salah satu pertempuran paling destruktif pada Perang Dunia II antara Kekaisaran Jepang dan pasukan Sekutu.

Data militer mencatat pertempuran sengit di pulau karang ini berlangsung sejak tanggal 27 Mei 1944 hingga 20 Juni 1944. Wilayah di utara Teluk Cenderawasih ini merupakan lokasi pertahanan yang sangat krusial. Biak memiliki tiga lapangan terbang taktis yang sangat vital, yaitu Lapangan Udara Mokmer, Lapangan Udara Sorido, dan Lapangan Udara Borokoe.

Keberadaan tiga infrastruktur penerbangan ini memicu bentrokan bersenjata skala besar. Sekutu harus merebut pangkalan tersebut demi melapangkan jalur penetrasi udara menuju wilayah Filipina dan jantung pertahanan Jepang di Pasifik Barat.

Masyarakat lokal Biak awalnya mengenal kawasan tersebut dengan nama Abyab Binsari. Dalam khazanah bahasa lokal, kata Abyab bermakna gua, sedangkan kata Binsari merujuk pada sosok perempuan tua atau nenek.

Asal-usul nama ini bermula dari tradisi lisan masyarakat adat yang mengisahkan keberadaan seorang nenek sebatang kara.

Nenek tersebut mendiami dan beraktivitas di area sekitar gua karang alami itu. Kehidupan sunyi sang nenek terusik hebat ketika gelombang pertama pasukan Jepang merangsek masuk ke Pulau Biak pada tahun 1943.

Detik itu juga sang nenek mendadak lenyap tanpa bekas tanpa ada yang tahu keberadaannya. Nama sang nenek akhirnya abadi melekat pada dinding-dinding batu gua hingga hari ini.

Pada awal tahun 1944, Angkatan Darat Kekaisaran Jepang ke-16 menetapkan Pulau Biak sebagai pangkalan pertahanan mutlak (Zettai Kokubō Ken).

Pangkalan ini menjadi benteng utama mereka di Pasifik Barat. Pucuk pimpinan tertinggi operasi berada di bawah komando Kolonel Naoyuki Kuzume. Ia mengendalikan penuh pergerakan 11.000 personel tentara dari Angkatan Darat ke-16. Pasukan ini menyebar merata ke seluruh sudut pulau.

Kolonel Kuzume menyadari posisi pasukannya kalah telak dari musuh. Mereka kalah secara kuantitas personel maupun modernitas teknologi persenjataan. Melalui kalkulasi taktis tersebut, ia mengeluarkan perintah tegas. Pasukan Jepang dilarang keras meladeni pertempuran terbuka di sepanjang pesisir pantai.

Jepang memilih memindahkan seluruh infrastruktur vital mereka ke dalam perut bumi. Pasukan penjelajah Jepang memanfaatkan keunikan geografis Biak yang kaya akan bentukan medan berupa jaringan gua karang alami (karst).

Lorong-lorong bawah tanah ini terhubung menjadi labirin raksasa sepanjang 3 kilometer dengan kedalaman vertikal mencapai 20 meter dari permukaan tanah. Pusat pertahanan utama dan markas komando logistik mereka berlokasi di Gua Abyab Binsari.

Struktur alami Gua Binsari terbukti memiliki spesifikasi militer yang luar biasa untuk melancarkan taktik gerilya. Jaringan interior gua mampu menampung ribuan prajurit, barak tidur, rumah sakit darurat, hingga gudang amunisi raksasa.

Keberadaan mulut gua yang tertutup rapat oleh vegetasi hutan tropis yang sangat lebat berhasil membutakan pengamatan udara Sekutu.

Pesawat-pesawat pengintai Amerika Serikat berulang kali gagal mendeteksi keberadaan markas bawah tanah tersebut. Dari dalam jaringan gua inilah, pasukan Jepang secara berkala keluar untuk melancarkan serangan gerilya kilat yang mematikan.

Mereka menghujani infanteri Sekutu dengan tembakan artileri tersembunyi. Taktik gerilya ini memicu tingkat mortalitas yang sangat tinggi dan menciptakan tekanan psikologis yang hebat di pihak tentara Amerika Serikat selama berminggu-minggu.

Di kubu lawan, komando pasukan Sekutu mengerahkan armada raksasa Gugus Tugas 77 (Task Force 77). Armada laut ini berada di bawah pimpinan Laksamana Muda William M. Fechteler.

Sementara untuk operasi darat, Sekutu mengandalkan kekuatan utama dari Divisi Infanteri ke-41 Amerika Serikat. Divisi infanteri darat Amerika Serikat ini dipimpin langsung oleh Mayor Jenderal Horace H. Fuller selaku komandan lapangan utama Sekutu untuk wilayah Biak.

Di bawah arahan strategi Jenderal Douglas MacArthur, Mayor Jenderal Horace H. Fuller membawa total kekuatan tempur mencapai 12.000 prajurit bersenjata lengkap untuk merebut pulau ini dari tangan Jepang.

Memasuki pertengahan tahun 1944, pendaratan pasukan darat di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal Horace H. Fuller langsung memicu rasa frustrasi mendalam bagi komandan lapangan Amerika Serikat tersebut.

Pasukan Sekutu menghadapi hujan tembakan meriam misterius dan serangan gerilya kilat yang mematikan dari pihak Kolonel Kuzume. Mereka sama sekali tidak bisa melihat posisi fisik musuh di atas tanah.

Titik balik pertempuran terjadi ketika unit intelijen Amerika Serikat berhasil mematahkan kerahasiaan markas Jepang.

Sekutu berhasil mengendus koordinat pasti pintu masuk utama serta lubang-lubang ventilasi udara alami gua berkat pasokan informasi dari mata-mata lokal.

Mayor Jenderal Horace H. Fuller menyadari risiko taktis yang sangat besar jika harus mengirim pasukan infanteri masuk ke dalam labirin sempit. Bertempur di dalam lorong gelap sepanjang 3 kilometer sama saja dengan mengirim prajurit menuju kematian massal.

Menolak opsi bunuh diri tersebut, komando militer Sekutu akhirnya mengambil keputusan yang sangat brutal melalui strategi bumi hangus secara total.

Tepat pada tanggal 7 Juli 1944, pasukan zeni tempur Amerika Serikat mengepung rapat seluruh akses keluar-masuk bodi Gua Binsari. Mereka menempatkan kendaraan berat dan truk tangki militer di sekeliling lubang ventilasi udara atas gua.

Pasukan Sekutu kemudian menggelontorkan sedikitnya 850 galon bahan bakar pesawat jenis avtur dan minyak cair langsung ke dalam lubang-lubang sirkulasi udara tersebut.

Cairan kimia yang sangat mudah terbakar itu mengalir deras membanjiri seluruh lantai, barak, dan dinding-dinding bagian dalam labirin gua tempat ribuan prajurit Jepang sedang berlindung.

Setelah cairan avtur meresap dan memenuhi interior gua, pasukan Amerika Serikat menjatuhkan puluhan bom drum pembakar (napalm).

Mereka juga melemparkan ratusan granat fosfor serta memasang 2.300 pon bahan peledak jenis TNT di sekitar mulut gua. Ledakan masif yang sangat dahsyat seketika mengguncang keras formasi batu karang Pulau Biak.

Gelombang kejut ledakan langsung meruntuhkan sebagian besar langit-langit batuan gua. Runtuhnya struktur karang ini menciptakan sebuah lubang sumur raksasa berdiameter 10 meter yang tembus langsung ke permukaan tanah.

Kobaran api bersuhu tinggi langsung melalap habis seluruh isi labirin bawah tanah dalam hitungan detik. Efek pembakaran ekstrem dari cairan avtur dan bom napalm menguras habis seluruh pasokan oksigen di dalam ruangan tertutup tersebut.

Suhu di dalam gua meningkat drastis hingga menciptakan efek oven raksasa. Tragedi militer ini menewaskan sedikitnya 3.000 prajurit Jepang seketika di dalam perut bumi Biak.

Mayoritas korban tewas akibat luka bakar tingkat tinggi di sekujur tubuh. Prajurit lainnya mati lemas akibat menghirup gas beracun karbon monoksida, atau hancur tertimbun hidup-hidup oleh puluhan ton reruntuhan batuan karang yang amblas.

Hancurnya basis pertahanan Gua Binsari mematahkan moral tempur sisa pasukan Jepang di Biak sekaligus melapangkan jalan bagi Jenderal Douglas MacArthur untuk merebut kembali wilayah Filipina.

Setelah badai Perang Dunia II berakhir, Gua Binsari praktis berubah menjadi sebuah kuburan massal bawah tanah yang sunyi. Situs sejarah ini sempat terabaikan begitu saja oleh masyarakat luas selama puluhan tahun.

Memasuki akhir era 1980-an, pemerintah daerah bersama sejumlah saksi sejarah mulai bergerak bersama. Mereka merintis upaya pembersihan vegetasi dan pembukaan akses jalan guna menyingkap kembali situs kelam yang sempat tertutup hutan ini.

Proses penggalian arkeologi dan evakuasi tulang-belulang korban perang kemudian berlangsung secara masif, hati-hati, dan terstruktur.

Hingga akhir tahun 2012, tim evakuasi gabungan berhasil mengangkat lebih dari 1.000 kerangka utuh prajurit Kekaisaran Jepang dari dalam timbunan tanah gua.

Pemerintah Jepang melalui Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan secara berkala terus melakukan misi repatriasi resmi ke Pulau Biak. Misi ini bertujuan untuk memulangkan mayoritas sisa kerangka prajurit tersebut menuju Tokyo agar bisa menjalani upacara kremasi yang layak secara adat.

Kendati demikian, tidak semua material perang dipindahkan dari lokasi asli. Ratusan sisa tengkorak manusia dan potongan tulang paha prajurit yang tidak teridentifikasi kini tersusun sangat rapi di dalam kotak-kotak kaca khusus di area luar gua sebagai monumen pengingat.

Kini, kompleks bekas pertempuran brutal tersebut telah resmi terdaftar sebagai Situs Cagar Budaya Peninggalan Perang Dunia II. Situs sejarah ini berada di bawah pengawasan Kementerian Kebudayaan serta pengelolalaan teknis Pemerintah Daerah Kabupaten Biak Numfor.

Kompleks Gua Binsari saat ini beralih fungsi sepenuhnya menjadi destinasi wisata sejarah, cagar alam, serta pusat riset militer internasional.

Pengelola setempat juga membangun sebuah bangunan museum mini yang berdiri tegak di area pintu masuk luar gua.

Langkah pembangunan museum ini bertujuan untuk memajukan dan mengamankan bukti-bukti otentik pertempuran agar tidak hilang dijarah. Pengunjung yang datang dapat menyaksikan langsung ribuan artefak valid yang berhasil dikumpulkan dari dasar gua.

Artefak tersebut meliputi selongsong peluru kaliber besar, helm baja yang bolong akibat terjangan peluru, senapan laras panjang tipe Arisaka, bayonet karat, alat medis darurat, botol-botol sake militer, hingga sisa onderdil kendaraan tempur milik tentara Jepang.

Keberadaan dokumen fisik dan sebaran artefak nyata di Gua Binsari menjadi bukti valid bahwa Indonesia Timur pernah memegang peran yang sangat krusial dalam percaturan militer global.

Benteng Duurstede Saparua, Saksi Hancurnya Garnisun Belanda

Tinggalkan komentar