Benteng Duurstede di Pulau Saparua, Maluku Tengah, menjadi saksi bisu salah satu pertempuran paling mematikan bagi militer kolonial Belanda di wilayah timur Nusantara.
Bangunan pertahanan dari batu karang ini merekam kehancuran total pasukan elit kompeni akibat strategi perang kilat rakyat Maluku.
Fakta sejarah berbasis data valid ini hadir untuk menyingkap kembali ketangguhan militer Indonesia Timur. Buku pelajaran sekolah selama ini terlalu sering berfokus pada taktik gerilya di Jawa atau Sumatra, sehingga melupakan fakta bahwa Maluku pernah menyapu bersih seluruh garnisun pertahanan Eropa hanya dalam hitungan hari.
Pemerintah kolonial Belanda mendirikan struktur pertama benteng ini pada tahun 1691 di bawah perintah Gubernur Jenderal Johannes Camphuys.
Struktur bangunan kemudian mendapatkan pemugaran masif oleh Gubernur Jenderal Joan van Hoorn pada tahun 1702. Lokasi pembangunan benteng menempati puncak bukit batu karang setinggi 20 meter yang menjorok langsung ke Teluk Saparua.
Pemilihan titik koordinat ini memiliki spesifikasi militer yang sangat strategis. Pengawas dari atas kastil dapat memantau penuh lalu lintas pelayaran kapal rempah-rempah yang melintasi Laut Banda, Selat Seram, serta perairan pulau Nusa Laut.
Benteng Duurstede berfungsi sebagai pusat administratif sekaligus pos militer bersenjata meriam laras panjang guna mengamankan monopoli perdagangan cengkeh dari sabotase pedagang Inggris dan Arab.
Situasi damai di Pulau Saparua berubah total menjadi pergolakan berdarah pada pertengahan tahun 1817. Kebijakan brutal residen baru Belanda bernama Johannes Rudolph van den Berg memicu kemarahan kolektif rakyat Maluku.
Residen Van den Berg menerapkan kembali sistem kerja paksa yang sangat menindas, monopoli garam yang ketat, serta pemaksaan penyerahan pemuda lokal untuk menjadi tentara sewaan di Pulau Jawa.
Penindasan ekonomi dan sosial yang tidak manusiawi ini memicu lahirnya sumpah setia perlawanan lintas negeri adat Maluku yang terikat dalam tatanan persaudaraan Pela Gandong.
Rakyat Maluku menunjuk Thomas Matulessy, seorang mantan sersan korps militer Inggris berkebangsaan Maluku, sebagai pemimpin tertinggi perlawanan dengan gelar Kapitan Pattimura.
Thomas Matulessy memiliki keunggulan taktis karena ia memahami betul doktrin militer Eropa, sistem komando barak, serta kelemahan struktur bangunan Benteng Duurstede. Di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura, pasukan rakyat Maluku tidak bergerak secara acak.
Mereka terbagi dalam unit-unit gerilya taktis beranggotakan ribuan pemuda dari berbagai negeri adat Saparua, Haruku, dan Nusalaut.
Kronologi perebutan Benteng Duurstede bermula pada malam hari tanggal 14 Mei 1817. Pasukan gerilya Pattimura melancarkan operasi infiltrasi senyap memotong jalur komunikasi darat antara benteng dan pos luar kolonial.
Puncak serangan kilat terjadi pada dini hari tanggal 16 Mei 1817. Pasukan rakyat Maluku merangsek maju melakukan penyerbuan mendadak dari arah bukit belakang benteng yang kurang mendapatkan pengawalan meriam. Taktik serbu cepat ini sepenuhnya mengejutkan garnisun pertahanan Belanda yang sedang tertidur lelap.
Pasukan Kapitan Pattimura berhasil menjebol pintu gerbang utama benteng dalam hitungan menit menggunakan kapak dan pemukul kayu raksasa. Pertempuran jarak dekat yang sangat sengit pecah di dalam pelataran dalam kastil.
Pasukan rakyat Maluku menggunakan parang salawaku tradisional untuk menghadapi bayonet dan senapan lontak Belanda.
Dalam waktu singkat, seluruh garnisun militer kolonial berhasil dilumpuhkan secara total. Insiden militer ini menewaskan Residen Johannes Rudolph van den Berg seketika di dalam kamarnya. Seluruh keluarga residen, perwira militer, serta puluhan prajurit penjaga benteng tewas dalam pertempuran jarak dekat tersebut. Hanya ada satu korban selamat dari pihak Belanda, yaitu anak balita residen bernama Jean Lubbert van den Berg yang sengaja diselamatkan oleh pasukan Pattimura.
Kekalahan mematikan di Benteng Duurstede memicu kepanikan luar biasa di markas besar Batavia. Pemerintah kolonial langsung mengirimkan ekspedisi militer pembalasan berskala besar di bawah komando Mayor Jenderal Robertus Amadues de Groot.
Pasukan ekspedisi ini membawa ratusan tentara elit bersenjata meriam kapal modern untuk merebut kembali Saparua. Pertempuran sengit kembali berkobar di sekitar benteng selama berbulan-bulan.
Taktik bumi hangus dan blockade laut Sekutu akhirnya berhasil memojokkan pasukan rakyat Maluku akibat kelangkaan amunisi bubuk mesiu.
Thomas Matulessy bersama beberapa pengikutnya tertangkap setelah dikhianati oleh raja lokal yang memihak Belanda. Kapitan Pattimura akhirnya gugur di tiang gantungan Benteng Victoria, Ambon, pada tanggal 16 Desember 1817.
Kini, Benteng Duurstede telah resmi menyandang status sebagai Situs Cagar Budaya Nasional di bawah pengelolaan Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah.
Kompleks militer abad ke-17 ini berfungsi sepenuhnya sebagai tempat wisata sejarah edukatif dan laboratorium riset arkeologi kolonial.
Struktur bangunan benteng masih berdiri kokoh dengan dinding batu karang tebal bercat putih asli. Pemerintah daerah merawat dengan baik bangunan menara pengintai (bastion) yang melingkar menghadap laut bebas.
Pengelola setempat juga menyediakan ruang diorama khusus di bagian dalam kompleks benteng. Fasilitas ini memajukan replika jalannya pertempuran serta berbagai artefak berharga yang valid.
Pengunjung dapat melihat secara langsung deretan meriam besi kuno peninggalan VOC yang masih terpasang rapi di celah dinding benteng. Keberadaan puing-puing bersejarah di Pulau Saparua ini menjadi bukti otentik kegigihan pejuang Indonesia Timur dalam meruntuhkan keangkuhan militer Eropa.
Sejarah Gua Binsari Biak, Kuburan Massal 3000 Prajurit